qflee

Posts Tagged ‘syahrul yasin limpo’

Menyongsong Pilgub Sulsel

In incumbent on 25 Februari 2012 at 2:47 am

syahrul yasin limpo Perang pernyataan antara kubu incumbent, Syahrul Yasin Limpo dengan penantang beratnya Ilham Arief Sirajuddin menyongsong pilgub Sulsel semakin intens dilakukan oleh masing-masing tim pemenangan. Hal ini tentunya lumrah dalam dunia perpolitikan, dimana masing-masing berusaha meraih simpati publik sebanyak-banyaknya. Walau belum bisa diukur keakuratan dari perang pernyataan tersebut, namun banyak yang meyakini bahwa dengan perang pernyataan itu bisa memberikan dampak psikologis bagi para pemilih nantinya.

Karakter pemilih kita yang cenderung menetapkan pilihan pada detik-detik terakhir membuat para tim kandidat berusaha merebut simpati dan mempertahankannya hingga pada masa pencoblosan. Untuk itu metode perang pernyataan ini dianggap cocok untuk saling meruntuhkan integritas calon dimata pemilih dan berusaha mencari celah bagaimana agar simpati tersebut beralih ke calon mereka.

Tagline Don’t Stop Komandan dibalas dengan Please Stop Komandan. Istilah kapal induk juga ditimpali dengan istilah rumah rakyat dan masih banyak lagi yang muncul seiring dengan semakin dekatnya waktu pencoblosan. Kreatifitas dari tim pemenangan memang sangat menentukan keunggulan dalam perang pernyataan seperti ini. Jargon serta propaganda politik bisa dikatakan tepat jika bisa mematikan langkah dan langsung mengarah pada pusat kekuatan lawan.

Dari berbagai sumber lembaga survei, memang keunggulan SYL masih jauh diatas rival utamannya, paket Ilham – Aziz. Namun, tidak menutup kemungkinan dalam perjalanan nantinya posisi ini justru berbalik. Ini tentunya sangat dipengaruhi oleh langkah-langkah strategis yang dilakukan oleh masing-masing tim pemenangan kandidat. Berkaca pada pilgub lalu, dimana incumbent Amin Syam yang unggul dimana-mana terpaksa harus keok ditangan penantangnya, Syahrul Yasin Limpo. Dari pengalaman tersebut, tentunya kubu Syahrul Yasin Limpo tidak akan mau gegabah. Terbukti dengan sikap cool namun tetap sigap yang diperlihatkan oleh sosok Syahrul Yasin Limpo. Pengumuman bakal pasangannya pun ditentukan dengan sangat hati-hati dengan melalui banyak pertimbangan sehingga nantinya suara partai tetap solid.

Kesimpulannya, tim kandidat hendaknya selalu menonjolkan kreatifitas-kreatifitas yang bisa membuat publik simpati dan menempatkan kandidatnya dalam posisi yang aman dari serangan-serangan dengan cara menghindari sikap frontal yang memang diharapkan oleh pihak lawan.

Nb: istilah-istilah diatas bukanlah berarti perang sesungguhnya melainkan hanya penggambaran semata.

Iklan

Bapak Pembangunan Sulsel Ditangkap KPK

In catatan pendek on 8 Maret 2009 at 6:47 am
transit

Kasus korupsi yang menimpa para politisi Senayan yang sebahagian berasal dari Sulsel pertanda apa?

Harian Kompas malah mengangkat tema yang rada-rada menakutkan, Korupsi Telah Membahayakan Demokrasi! Apakah memang sudah seperti itu penyakit korupsi di lembaga terhormat tersebut? Silahkan Anda sendiri yang menjawabnya.

Masih dalam koran yang sama,
reaksi dari para pendukung Abdul Hadi Djamal
dengan menggelar doa bersama sebagai rasa simpati bagi Abdul Hadi yang telah resmi jadi tersangka.

Mereka juga memprotes pemecatan Abdul Hadi, membakar foto Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir dan menyerukan para pendukungnya untuk golput.

Padahal boleh dikata Abdul Hadi Djamal cs lah yang selama ini getol memperjuangkan dana-dana pembangunan dari pusat sehingga dapat dinikmati oleh masyarakat Sulsel.

Dari materi-materi kampanye yang disebarluaskan, digambarkan beberapa keberhasilan dari mega proyek yang kesemuanya adalah hasil kerja serta lobi-lobi para politisi asal Sulsel di Senayan. Makanya kita tentu tidak heran jika reaksi keras dari masyarakat Sulsel dalam menyikapi kasus ini. Bahkan sebagian mungkin menganggap beliau adalah Bapak Pembangunan Sulsel. Baca juga komentar Gubernur Syahrul Yasin Limpodi sini,yang menganggap sosok Hadi Djamal telah banyak membantu pembangunan di Sulsel.

Lantas bagaimana jika kasus yang menimpa beliau dikaitkan dengan budaya siri atau malu yang dimiliki oleh orang Bugis Makassar? Mungkin perlu rekonstruksi ulang dari para budayawan Sulsel tentang makna hakiki dari budaya siri itu sendiri.

Kembali pada ancaman demokrasi, korupsi sudah menjadi bagian tak terpisahkan dariI kehidupan kita sehari-hari. Korupsi sudah menjadi bahaya laten bagi bangsa ini.

Untuk kedepannya, pemimpin siapa pun yang terpilih, komitmen teguh terhadap bahaya laten korupsi tidak bisa ditawar-tawar lagi. Komitmen ini pun harus dibuktikan dengan tindakan nyata terhadap para koruptor tersebut. Kita tidak ingin lagi mendengar adanya istilah tebang pilih dalam setiap penanganan kasus korupsi di tanah air.

Inilah tantangan terberat bagi putra-putri terbaik Sulsel untuk tampil sebagai pemimpin nasional akan datang.