qflee

Posts Tagged ‘partai’

JK “dibajak” PD

In parpol on 4 Mei 2012 at 7:22 am

Nama Jusuf Kalla kembali digadang-gadang menjadi capres 2014. Parpol yang menggadang-gadang mantan wapres tersebut kali ini Partai Demokrat. Langkah ini dinilai sebagai cara instan mendongkrak popularitas dengan ‘membajak’ kader partai lain.

“Jika benar Partai Demokrat mengusung Jusuf Kalla, ini menjadi ‘pembajakan’ terhadap kader partai lain untuk memperbaiki popularitas,” ujar pengamat politik Charta Politika, Arya Fernandes, ketika berbincang dengan detikcom, Jumat (4/5/2012).

Arya mengatakan ‘pembajakan’ yang dilakukan Partai Demokrat terhadap kader partai lain, baik di pilpres maupun di pemilihan gubernur, bupati, atau walikota tentu akan berbahaya bagi masa depan kaderisasi kepemimpinan dan penguatan identitas partai politik. Di beberapa pemilukada Gubernur dan Bupati/walikota, Partai Demokrat berusaha ‘membajak’ kader partai lain.

“Saya kira pembajakan adalah cara instan untuk bisa survive dalam politik Indonesia, dan saya kira tidak elok bagi masa depan partai,” tuturnya.

Menurutnya, pekerjaan rumah serius yang semestinya dilakukan Partai Demokrat adalah perbaikan infrastruktur politik, penanaman nilai-nilai partai, dan pembangunan pemilih loyal. Ini menjadi tantangan Partai Demokrat pasca SBY, yaitu mentransformasikan kekuatan politik citra menjadi politik jaringan.

Sebelumnya, Waketum PD, Max Sopacua menilai Jusuf Kalla (JK) layak diusung kembali menjadi calon presiden dalam Pilpres 2014. Dia menilai JK yang tetap eksis selepas menjabat sebagai wakil presiden 2004-2009, dapat saja menjadi capres dari PD.

“Semua orang bisa berpikir untuk JK jadi pertimbangan, karena beliau sudah berkarya,” ujar Wakil Ketum PD Max Sopacua saat dihubungi wartawan, Rabu (2/5). Sumber berita baca
disini! Semoga bermanfaat.

Posted with AZNPage

Iklan

Partai Demokrat di Ujung Tanduk

In catatan pendek on 28 Mei 2011 at 3:40 am

Kisruh ditubuh partai demokrat ini semakin memanas dan mengarah pada  perpecahan antar kader demokrat sendiri. Kasus M. Nazaruddin, Bendahara Umum PD bahkan telah menyeret nama-nama lain elite partai. Sebagai partai pemenang pemilu, para petinggi partai harus kerja ekstra agar kasus ini tidak berdampak pada perolehan suara nantinya.

Sejak kasus Wisma Atlet mencuat, banyak pihak berharap agar kasus ini secepatnya dituntaskan. Apalagi dikaitkan dengan nama PD serta keberadaan SBY sebagai Ketua Dewan Pembina partai yang selama ini mendengung-dengungkan gerakan pemberantasan korupsi. Tak ayal, KPK pun langsung mengambil sikap dengan mengeluarkan surat  cekal terhadap M. Nazaruddin.

Sikap partai sendiri sudah jelas dengan memberhentikan Nazaruddin sebagai pengurus partai. Walau banyak juga yang menyayangkan karena  tidak diberhentikan sebagai anggota DPR. Tapi setidak-tidaknya langkah ini telah menunjukkan bahwa PD  tidak akan main-main dengan kasus korupsi.

Hanya saja, menghindarnya M. Nazaruddin ke Singapura  serta pro kontra antara kader dalam menyikapi kasus ini ternyata luput dari pengamatan SBY sebagai pembina partai. Situasi perpecahan di tubuh partai pasca pemecatan M. Nazaruddin nampaknya tak bisa terhindarkan.

Mampukkan  PD keluar dari persoalan ini? Apakah tanda-tanda perlawanan kader terhadap pembinanya menunjukkan PD berada dalam posisi sulit? Tentunya kita harus menunggu lagi langkah-langkah yang akan diambil para elite partai nantinya.

Koalisi Jilat Ludah

In demokrasi on 18 April 2009 at 1:09 am
Lawatan sambil belajar - "Mengenali Durian Perak"

Rencana membangun kembali koalisi antara Partai Demokrat dengan Partai Golkar dalam pilpres menuai banyak kecaman di internal Partai Golkar sendiri.

Ini berarti langkah Jusuf Kalla belum mulus. Bakal pecahnya suara yang menjurus pada pro maupun kontra soal pencalonan JK sebenarnya sudah terlihat dari awal sebelum pemilihan. Dihapuskannya sistim konvensi menjadikan sebahagian kader merasa tidak nyaman. Hal ini berimbas pada sikap politik Sultan untuk tetap ngotot maju jadi capres.

Keengganan JK juga nampak pada saat beliau menerima desakan DPD-DPD untuk maju jadi capres. Hasilnya pun mudah ditebak. Keinginan untuk kembali bersanding dengan SBY lebih besar. Hal ini juga didukung pada realitas pemilu dimana Partai Golkar hanya mampu meraup suara 14%.

Disinilah muncul kegamangan pada diri JK. Jika menerima kembali pinangan SBY maka dia dicap sebagai pemimpin yang tidak memegang teguh kata-katanya. Dimana sikap seperti ini sangat pantang bagi suku bugis-makassar. Sebaliknya, jika menolak, kredibilitas dan harga diri partai tetap terjaga. Dan yang pasti tidak terkesan menjilat kembali ludahnya sendiri.

Bagaimana cara JK keluar dari polemik ini ? Tentunya kita masih harus menunggu lagi hasil dari loby-loby partai lain yang tak bisa lepas dari kesan “jilat ludah”. Dan yang pasti, bukan politik namanya jika tidak selalu memunculkan kejutan-kejutan.

Caleg Stress Jelang Pemilihan

In Caleg on 2 April 2009 at 1:30 pm
Stress

Tanda-tanda bakalan banyak orang yang stress pasca pileg mulai nampak. Mendekati hari H, hampir setiap hari ada-ada saja yang kelakuan “aneh” dari para caleg.

Kita tidak usah hitung mereka yang terkadang duduk termenung sambil menatap kosong entah memikirkan apa, sampai dengan bicara mencak-mencak tidak tahu mau marah sama siapa.

Tempat mereka melampiaskan kekesalan atau uneg-unegnya umumnya di warung-warung kopi. Otomatis para pemilik warkop harus extra hati-hati jika ingin melayani caleg seperti ini.

Inilah buah dari demokrasi yang kita bangun bersama. Dimana ruang untuk menyampaikan segala aspirasi terbuka begitu lebar. Namun nampaknya tingkat partisipasi politik masyarakat tidak dibarengi dengan sumber daya manusia yang memadai. Jadilah mereka seperti orang-orang kebingungan tanpa arah dan tujuan yang jelas dalam menyikapi demokratisasi yang sedang berlangsung sekarang

Namun bukan berarti kita harus mundur kebelakang lagi. Sebab dengan demokrasi yang sedang kita jalankan sekarang masih lebih baik dibandingkan dengan sistim otoriter.

Hanya saja kita sebagai elemen pendukung gerakan demokrasi harus tetap waspada dari upaya-upaya pihak-pihak tertentu yang tidak senang dengan kebangkitan demokrasi di tanah air.

Salah satunya adalah dengan tetap aktif mengawal serta memberi kontribusi kepada pemerintah sehingga demokrasi tetap berada pada jalur yang semestinya.

Kembali pada soal caleg yang stress, pemerintah selayaknya memberi perhatian serius. Indikasinya adalah begitu minimnya wawasan para caleg tersebut sehingga mereka berlomba-lomba masuk parlemen semata-mata untuk perbaikan perbaikan nasib doang. Sama halnya dalam pola rekrutmen dan penempatan person dalam jabatan-jabatan politis. Hal ini masih sangat kental nuansa euforia dari partai-partai.

Apapun konsekuensinya sepanjang tidak “membahayakan” demokrasi itu sendiri tidaklah menjadi soal. Justru dengan bunga-bunga demokrasi tersebut semakin menambah indah keberagaman bangsa kita tercinta, Indonesia.

Alasan Kenapa Memilih Prabowo

In demokrasi on 27 Maret 2009 at 1:00 pm
konsolidasi nasional-menyambut prabowo

Tak bisa dipungkiri, popularitas capres yang diusung Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya) ini, Prabowo Subianto menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan.

Dari calon yang dipandang sebelah mata, menjadi calon yang paling diperhitungkan saat ini.

Apa yang menyebabkan sosok mantan menantu Bapak Pembangunan Indonesia, H. M. Soeharto dan berjuluk “Rising Star” ini mampu meraih simpati rakyat dalam tempo yang relatif singkat.

Merujuk pada blog saudara M. Shodiq Mustika, dimana selebriti cantik Maia, mantan personil Ratu begitu “tergila-gila” dengan sosok mantan danjen kopassus itu, karena melihat figur ini memiliki watak rendah hati, tegas dan tidak sombong.

Salah satu contoh kerendahan hati beliau yakni ketika dengan terbuka mengakui kesalahan masa lalunya dan meminta maaf kepada semua rakyat Indonesia.

Mampukah Prabowo membuktikan bahwa dirinya memang layak dan pantas menjadi orang nomor satu di Indonesia? Mari kita tunggu dan lihat pilihan rakyat pada pemilu yang akan datang.

SBY-JK Pemimpin Amanah atau Munafik?

In demokrasi on 23 Februari 2009 at 7:23 am



Perpisahan pasangan ‘Bersama Kita Bisa’ mengundang pertanyaan serta berbagai tanggapan masyarakat luas.
Sebagian orang tidak menyangka pasangan SBY-JK akan berpisah diakhir perjalanan pemerintahan mereka, yang lainnya beranggapan bahwa hal ini sudah pasti akan terjadi. Dengan kata lain dalam politik tidak ada kawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan.

Walaupun masih banyak yang meragukan keputusan tersebut, namun faktanya memang sangat susah untuk mempersatukan kembali pasangan tersebut.




Pandangan berbeda juga disampaikan, Saudara Djaja dalam komentarnya di Fakta Seputar Keretakan Hubungan SBY-JK, dimana ia mengaku kecewa dengan keputusan kedua pemimpin nasional tersebut. Keputusan tersebut telah melanggar amanah dan munafik sehingga menyerukan gerakan ABS ditambah juga dengan ABJ.

SBY-JK seharusnya sadar bahwa mereka dipilih oleh rakyat adalah amanah besar. Sehingga amanah dan tanggung jawab tesebut harus diselesaikan sampai tuntas. Bukan hanya kasak-kusuk memikirkan jabatan dan kekuasaan.

Sebagaimana diberitakan Kompas, Ketua Umum NU Hasyim Muzadi juga berpendapat agar kedua pemimpin tersebut tidak saling adu argumen tentang pencalonannya masing-masing.

Disatu sisi desakan kader-kader Golkar untuk mencapreskan Jusuf Kalla juga menunjukkan sifat tidak percaya diri mereka sehingga harus menarik serta menjual figur ketua umum untuk bisa memenangkan pileg (pemilihan legislatif).

PDIP sendiri menyambut gembira rencana ‘perceraian’ kedua pasangan tersebut. Bahkan dengan nada optimis Taufik Kiemas yakin koalisi antara PDIP dengan Golkar akan terwujud secepatnya. Tanda-tanda kearah itu memang sudah terlihat dari begitu gencarnya Megawati menggalang dukungan dari wilayah Timur Indonesia. Apakah ini pertanda memang Megawati Incar JK?

Adapun tanggapan dari SBY dapat dilihat SBY Info

Fakta Seputar Keretakan Hubungan SBY-JK

In catatan pendek on 14 Februari 2009 at 4:50 am

Ada beberapa fakta yang menyebabkan keretakan hubungan SBY – JK yang berujung pada terjadinya rivalitas di antara keduanya pada pilpres 2009.

Denny JA melalui artikelnya Tes Bagi Duet Yudhoyono Kalla
secara gamblang menjelaskan perbedaan mendasar antara kedua pemimpin tersebut.

Fakta pertama :
Hasil rapimnas partai demokrat yang tidak membicarakan secara langsung siapa yang mendamping SBY. Hal ini bisa menimbulkan banyak penafsiran diantaranya akan ada pengganti Jusuf Kalla sebagai cawapres mendampingi SBY.

Fakta kedua :
Pernyataan kontroversial wakil ketua umum partai demokrat yang dinilai melecehkan partai golkar. Dalam hitungan politis perolehan suara partai demokrat tidak akan mungkin melebihi partai golkar.

Walaupun pada artikel berikutnya, Menjaga SBY-JK
Bung Denny mencoba memberi gambaran suasana politik jika duet SBY – JK berpisah namun nampaknya konstelasi politik nasional dewasa ini justru kebalikannya.

Godaan kekuasaan lebih dominan mempengaruhi masing-masing kandidat. Hal ini secara otomatis membuat komitmen-komitmen antar partai sangat rapuh atau bubar.

Akankah duet SBY-JK mampu bertahan pada pilpres 2009?



Golkar Sulsel Kehilangan Sang Jenderal

In demokrasi on 10 Januari 2009 at 5:28 am

Pengunduran diri Amin Syam dari kursi ketua Golkar Sulsel adalah blunder bagi partai berlambang pohon beringin ini.

Dalam waktu yang sangat kasip jelang pemilu legislatif maupun pilpres sangat riskan memang. Namun barangkali inilah ujian terakhir bagi ketua umum sebelum memutuskan sikap tentang ikut “nyalon” 01 atau 02 saja.

Tak bisa dipungkiri faktor penyebab timbulnya faksi di tubuh Golkar Sulsel adalah pilgub yang menyebabkan kekalahan kontroversial Golkar di daerah yang selama ini terkenal sebagai lumbung suara partai dengan warna kebesarannya kuning.

Terpilihnya Syahrul Yasin Limpo walaupun dengan perolehan suara tipis yang juga nota bene adalah kader Golkar telah menjungkir balikkan fakta. Hal ini juga berimbas pada semangat euforia kader untuk merekonstruksi partai dengan mengganti pucuk pimpinan yang telah dianggap gagal.

Bagaimanapun juga kedewasaan para elit lokal Partai Golkar dalam menyikapi persoalan ini adalah solusi paling smart guna menghindari partai dari perpecahan dan berimplikasi sangat luas. Dan yang lebih urgent adalah menyelamatkan muka sang ketua umum.

Pertarungan di internal partai yang pernah berkuasa pada zaman orde baru ini bisa dikatakan tahap pemanasan mesin partai jelang pilpres nanti. Hal ini juga menjadi warning bagi partai-partai lain sekaligus sinyal kuat akan kesiapan Partai Golkar untuk kembali berkuasa.

Iklan Politik

In parpol on 2 Desember 2008 at 1:29 pm

Belanja iklan politik dari parpol sangat fantastis dilihat dari jumlah angkanya. Untuk mengangkat citra partai bersama elitnya tak tanggung-tanggung mereka merogoh kocek sampai milyaran. Inilah realitas yang terjadi.

Disaat bangsa dan bahkan dunia mengalami krisis namun disisi lain ada sekelompok orang yang begitu mudahnya menghambur-hamburkan uang demi sebuah prestise.

Apa relevansinya mendongkrak citra partai melalui belanja iklan secara jor-joran dengan perbaikan nasib rakyat yang semakin terjepit dengan krisis global?

Partai sebagai pilar utama demokrasi menjadi rapuh serta sangat rentan dengan kepentingan-kepentingan sesaat dari elit. Partai tidak bisa lagi berfungsi sebagai pembela kepentingan rakyat tetapi justru menjadi alat bagi orang berduit untuk memoles citra di depan publik sehingga bisa tampil layaknya socialita yang bergelimang harta dan kemewahan.