qflee

Posts Tagged ‘parpol’

MEGAWATI INCAR JK

In demokrasi on 12 Januari 2009 at 1:08 am



Tur politik Megawati ke sejumlah daerah khususnya di kawasan timur Indonesia menandakan genderang pesta demokrasi lima tahunan telah ditabuh.

Dari sekian banyak survei telah dilakukan nama ketua umum PDI Perjuangan ini masih tetap bertengger di papan atas bursa capres. Posisi angkanya hanya beda tipis dengan pesaing utamanya Susilo Bambang Yudhoyono yang tetap memimpin

Mega pantas memiliki rasa percaya diri. Sebagai mantan presiden tentu mempunyai kalkulasi politik tersendiri dalam mengukur elektibilitas pemilih. Alasan ini pula yang memberi keyakinan serta optimisme dari kader-kader partai berlambang banteng gemuk menghadapi pilpres akan datang.

Inilah klimaks dari hasil kongres Bali dimana Mega kembali dipercaya memimpin partai. Keputusan kongres yang pada masa itu dianggap kurang populer ternyata membawa berkah dikemudian hari.

Tapi ini tidak berarti semuanya berjalan sesuai strategi partai. Hal yang paling krusial adalah mandeknya regenerasi di tubuh partai. Dengan majunya Mega sebagai capres tunggal dari partainya secara otomatis menutup peluang bagi munculnya kader muda yang bisa membawa angin segar.

Alhasil kita pun sudah bisa memprediksi peta kekuatan serta konstelasi politik pilpres nanti tak lain adalah arena pertarungan tokoh-tokoh lama alias jadul.

Dari serangkaian tur politik tersebut ada satu yang membuat kita berasumsi tentang pasangan Mega. Tokoh nasional yang selama ini di representasikan sebagai wakil dari Indonesia bagian timur bakal menjadi idola para kandidat.

G O L P U T

In parpol on 23 Juli 2008 at 10:23 pm

Akhir-akhir ini perdebatan tentang golput atau golongan putih sangat santer diberitakan. Apalagi dengan adanya kisruh di tubuh PKB yang membuat Gus Dur mengajak seluruh warga untuk melakukan gerakan golput pada pilpres yang akan datang. Apa sebenarnya makna atau relevansi dari pernyataan Gus Dur tersebut dengan kisruh ditubuh partainya sendiri? Hemat saya ini adalah bentuk atau ungkapan kekecewaan terhadap sistim perpolitikan tanah air dewasa ini. Atau lebih tepatnya menunjukkan bahwa pondasi-pondasi partai sangat rapuh.

Golput bukanlah sesuatu yang haram tetapi gerakan atau pola yang terstrukur dan mengarah pada sebuah ajakan sistimatis itu sama saja dengan membunuh demokrasi dan telah masuk dalam domain teroris. Untuk itu perlu dibuat semacam aturan tersendiri menyangkut keberadaan golput tersebut. Ini guna menghindari kesimpangsiuran ditengah-tengah masyarakat. Disatu sisi pemerintah pun perlu lebih concern dengan suara-suara masyarakat yang menyerukan golput.

Jadi perdebatan tentang keberadaan golput adalah sesuatu yang positif sepanjang kita mau meletakkan pikiran dalam satu wadah besar yaitu demokrasi. Adalah hak setiap warga untuk tidak memberikan pilihannya dan juga sebaliknya kewajiban bagi institusi demokrasi untuk memberikan pilihan-pilihan terbaik bagi warga negara. Terbaik dalam arti bisa diterima oleh akal sehat dan akuntabilitas.

Sekali lagi memandang keberadaan warga masyarakat yang golput tidak bisa melalui satu sisi saja. Bahwasannya aspirasi yang dibawakan tidak tersalur maka larinya ke golput. Tetapi golput adalah salah satu bentuk pilihan juga yang bermakna teguran atau sindiran terhadap sistim dan mekanisme yang sedang berjalan. Jadi tidak perlu memberi reaksi yang berlebihan dalam menyikapi sikap warga untuk golput. Hanya saja, adalah tanggung jawab kita semua untuk mendengarkan atau lebih tepatnya mengolah suara-suara kekecewaan tersebut sehingga bisa menjadi bunga-bunga bagi demokrasi sehingga lebih indah dipandang dunia.

Fenomena Runtuhnya Hegemoni Partai

In catatan pendek on 29 Juni 2008 at 12:56 pm

Mencermati perkembangan partai-partai politik jelang pemilu legislatif dan pemilihan presiden sangat menarik. Mulai dari konstelasi politik di tingkat paling bawah hingga ke atas terkadang membuat kejutan-kejutan. Dan yang paling banyak menyita perhatian kita adalah kekalahan partai-partai besar yang nota bene telah lama berkiprah oleh partai yang relatif masih kurang jam terbangnya. Dalam beberapa pilkada yang digelar, partai sebesar golkar bahkan harus rela mengakui kekalahannya dari partai-partai kecil.

Tarik menarik di internal partai yang terkadang lebih banyak membuang-buang energi membuat partai ngos-ngosan pada detik-detik terakhir. Konsolidasi ditingkat bawah juga sangat rentan dengan semakin kritisnya para konstituen yang didukung dengan perangkat perundang-undangangan politik. Salah satu contoh nyata adalah mekanisme perekrutan calon oleh partai-partai yang berputar hanya pada isu siapa yang diusung. Padahal seyogyanya lebih arif dan bijaksana kalau seandainya model perekrutan calon lebih dominan mengangkat materi atau dengan kata lain apa yang akan dijual oleh sang kandidat tersebut. 

Kondisi ini sebenarnya sangat merugikan partai-partai yang sudah lama alias mempunyai dukungan massa jelas dan ideologi kuat. Tetapi mereka tidak menyadari bahwa produk perundang-perundangan yang dibuat sendiri akan menjadi bumerang. Fenomena kekalahan partai-partai besar tersebut adalah indikasi akan adanya degradasi kepercayaan konstituen terhadap kemandirian partai. Runtuhnya hegemoni partai diikuti pula dengan ideologi partai yang tidak jelas. Orientasi elit hanya sebatas kebutuhan jangka pendek saja. Kader sebagai elemen utama partai kehilangan rohnya dan beralih menjadi kader spekulan yang semata-mata berorientasi ekonomi.

Lihatlah pola rekruitmen partai untuk calon legislatif mendatang. Belum satupun partai yang mampu menerapkan pola rekruitmen yang berdasar pada penguatan kader dan partai itu sendiri. Kenapa misalnya, seorang kader partai karena hanya persoalan nomor urut tiba-tiba saja memutuskan untuk pindah partai. Dan bukan sesuatu yang aneh jika seseorang yang begitu menggebu-gebu membela partainya tiba-tiba berubah menjadi musuh utama partainya sendiri.

Pengeroposan partai membuka peluang berkembangnya parasit-parasit yang menganggu pertumbuhan demokrasi. Untuk itu partai sebagai pilar utama demokrasi harus segera berbenah diri. Penguatan kader, militansi kader serta orientasi kader adalah hal penting. Jangan menjadikan kader sebagai lahan eksploitasi tapi bentuklah kader partai yang mampu membawa perubahan serta harapan yang lebih baik lagi dimasa-masa yang akan datang.