qflee

Posts Tagged ‘malaysia’

Saudara Kok Diganyang?

In catatan pendek on 13 September 2010 at 9:49 pm

Mendengar kata perang membuat buluku merinding. Ya, perang atau saling membunuh antar manusia, pertumpahan darah dimana-mana. Akankah kita masih ingin menyuarakan perang kalau kita tahu dampak dari perang itu sendiri?

Keinginan kuat untuk berperang atas nama harga diri dan kehormatan bangsa bukan dilandasi atas kesadaran serta akal sehat. Apalagi pihak yang ingin diperangi adalah negara yang mayoritas warga muslim dimana dalam Islam sesama muslim adalah saudara sendiri.

Provokasi seperti ini untungnya masih ditanggapai dingin oleh mayoritas anak bangsa, terkhusus para pemimpin kita, sehingga tidak larut dalam emosi. Beruntung karena masih banyak yang cinta damai.

Lantas, bagaimana solusi atas hubungan kedua negara ini (RI-Malaysia)? Hubungan yang sudah terjalin sekian lama dan dengan berbagai persoalan sudah dilalui. Terkadang mesra dan dilain waktu kedua pihak saling ngambek.

Setelah sekian lama melalui gelombang pasang surut ini, hubungan kedua negara bukankah justru semakin harmonis dan lebih saling memahami. Memang terkadang ada pihak yang merasa disakiti atau dikhianati tetapi bukan lantas itu membuat keduanya jadi mata gelap dengan mengorbankan hubungan yang sudah lama terjalin.

Perang tidak hanya mengoyak-ngoyak wilayah tetapi juga menyisakan berbagai persoalan kemanusiaan yang begitu tragis. Terpisahnya orang tua dengan anak-anaknya, suami dengan istrinya, dendam yang tidak berkesudahan. Masihkah kita mau berperang jika cuma itu tujuannya?

Sekali lagi, jalur diplomasi adalah solusi yang paling elegan. Tidak ada satu persoalan pun yang tak terselesaikan sepanjang kedua pihak mau duduk bersama. Terkadang memang diplomasi harus tegas tapi bukan berarti mengajak perang. Lihat saja bagaimana sepak terjang Bapak Jusuf Kalla ketika masih menjadi Wakil Presiden, sebagaimana diceritakan di Kompasiana, Diplomasi Ala Bugis.

Perang bagi kedua negara (RI-Malaysia) hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu. Sekali mesin perang jalan maka rakyat kedua negara yang menjadi korban.

Pendet Traditional Dance

In catatan pendek on 31 Agustus 2009 at 6:00 am

The unilateral claim the Malaysian government on traditional art of the Pendet Dance as well as various original styles of the Indonesian culture prove how the “competition” between the two countries not only in the strength of the military.

The wave the protest then springs up. All of them regret the Malaysian government attitude that does not appreciate original Indonesian culture. Although in the long run the Malaysian government gives clarification on this incident. Apparently the heart of the Indonesian people has been already done the wound.

In fact already many cases that involve the two countries. However so far hue strength of diplomacy evidently still an very effective. This is definitely not free from the history of the two countries. But really is worried if the condition like this happens repeatedly. At least we gave the opportunity for the third party to take the profit. Do not close the possibility of these tactics of being to weaken to one another the strength of ASEAN countries so as in the long run facilities on the control of politics and economics respectively the countries.

The Malaysian government preferably immediately stops carrying out provocative actions on Indonesia. As efforts to maintain the regional condition situation stay conducive. If not, the war that was not all beneficial happen for the two countries.