qflee

Posts Tagged ‘koalisi’

Koalisi Besar Diujung Tanduk

In Tak Berkategori on 12 Mei 2009 at 9:48 am

Koalisi besar yang digagas oleh partai-partai besar non partai demokrat nampaknya sudah berada diujung tanduk.

Sinyal dari PDIP telah menguatkan dugaan tersebut. Ditambah lagi pengakuan SBY pada pidato kemenangan partai demokrat. Nasib koalisi besar hanya tinggal masa lalu.

Kalau kita merujuk pada konsistensi Megawati selama ini, tentu bertolak belakang dengan karakter sebenarnya. Keteguhan ini malah telah dibuktikan selama 5 tahun dengan mengambil sikap oposisi terhadap pemerintah.

Namun yang sering menjadi ganjalan selama ini adalah, peranan dari suami Mega sendiri. (Taufik Keimas). TK selama ini sangat dikenal mampu mengambil alih kemudi partai pada saat menghadapi situasi genting seperti saat ini.

Kalau pun alur ceritanya seperti ini, maka sebenarnya di internal PDIP itu sendiri telah terjadi blok atau faksi. Lebih sederhananya, faksi itu dapat dilihat pada tiga kelompok besar.

Yang pertama tentunya gerbong yang dibawa oleh TK, didalamnya ada Cahyo Kumolo, gerbong kedua adalah Pramono Anung dengan beberapa fungsionaris yang tetap komit dengan pencapresan Mega, sedangkan gerbong terakhir adalah Megawati sendiri yang tentunya lebih condong menyatu dengan gerbong pertama.

Sekarang mari kita menunggu siapa diantara ketiga faksi tersebut yang keluar sebagai jawara. Yang pasti koalisi besar berada pada posisi yang sangat dilematis. Antara komitmen perjuangkan rakyat dengan iming-iming kue kekuasaan.

Koalisi Jilat Ludah

In demokrasi on 18 April 2009 at 1:09 am
Lawatan sambil belajar - "Mengenali Durian Perak"

Rencana membangun kembali koalisi antara Partai Demokrat dengan Partai Golkar dalam pilpres menuai banyak kecaman di internal Partai Golkar sendiri.

Ini berarti langkah Jusuf Kalla belum mulus. Bakal pecahnya suara yang menjurus pada pro maupun kontra soal pencalonan JK sebenarnya sudah terlihat dari awal sebelum pemilihan. Dihapuskannya sistim konvensi menjadikan sebahagian kader merasa tidak nyaman. Hal ini berimbas pada sikap politik Sultan untuk tetap ngotot maju jadi capres.

Keengganan JK juga nampak pada saat beliau menerima desakan DPD-DPD untuk maju jadi capres. Hasilnya pun mudah ditebak. Keinginan untuk kembali bersanding dengan SBY lebih besar. Hal ini juga didukung pada realitas pemilu dimana Partai Golkar hanya mampu meraup suara 14%.

Disinilah muncul kegamangan pada diri JK. Jika menerima kembali pinangan SBY maka dia dicap sebagai pemimpin yang tidak memegang teguh kata-katanya. Dimana sikap seperti ini sangat pantang bagi suku bugis-makassar. Sebaliknya, jika menolak, kredibilitas dan harga diri partai tetap terjaga. Dan yang pasti tidak terkesan menjilat kembali ludahnya sendiri.

Bagaimana cara JK keluar dari polemik ini ? Tentunya kita masih harus menunggu lagi hasil dari loby-loby partai lain yang tak bisa lepas dari kesan “jilat ludah”. Dan yang pasti, bukan politik namanya jika tidak selalu memunculkan kejutan-kejutan.

JK-MEGA KETEMU, SBY MINTA PROMAAG

In demokrasi on 17 Maret 2009 at 2:06 am
drug addict

Entah karena apa tiba-tiba SBY pada kunjungan kerjanya di Sulawesi Selatan terkena sakit maag.

Banyak rumor beredar ikhwal sakitnya presiden.


Kondisi politik yang semakin memanas, topik keretakan Demokrat dengan Golkar hingga rumor bahwa SBY tidak enjoy dengan sambutan simpatisan dan kader Partai Demokrat Sulsel yang dianggapnya terlalu over.

Agenda pertemuan JK dengan Mega juga menjadi sasaran berkembangnya rumor tak sedap tentang diri SBY. Sebenarnya Mega dengan PDI Perjuangan telah lama mengincar JK. Buktinya dapat kita lihat dari begitu antusiasnya elit partai menyikapi pecahnya pasangan “Bersama Kita Bisa” ini

Untuk menghindari semakin banyaknya isu-isu menyangkut insiden sakit tersebut, SBY merasa perlu untuk memberi klarifikasi.Yang intinya menegaskan bahwa beliau murni sakit karena nyeri lambung.

Secara umum kita lihat bahwa kedua tokoh nasional ini takkan mungkin lagi bisa berduet pada pilpres yang sebentar lagi akan digelar. Fakta Seputar Retaknya SBY-JK,dan tentunya masih banyak lagi fakta-fakta yang menguatkan bubarnya koalisi tersebut.

Dari awal memang bisa dilihat adanya ketidakcocokan antara keduanya. Beda karakter serta gaya kepemimpinan ibarat air dan minyak. Hanya saja kedua pemimpin tersebut telah memperlihatkan dan membuktikan bahwa perbedaan mendasar tersebut bukan hambatan dalam menjalankan roda pemerintahan.

Bahkan tak bisa kita pungkiri, kinerja duet SBY-JK lebih smart dan fokus. Meskipun tak bisa dikatakan sempurna.

Justru karena indikasi keberhasilan pemerintahan sekarang yang membuat kedua-duanya tetap menjadi jualan paling laku bagi para politikus. Boleh dikata tak ada satupun bakal capres yang bisa menandingi popularitas dan elektibilitas kedua pemimpin nasional tersebut.


Fakta Seputar Keretakan Hubungan SBY-JK

In catatan pendek on 14 Februari 2009 at 4:50 am

Ada beberapa fakta yang menyebabkan keretakan hubungan SBY – JK yang berujung pada terjadinya rivalitas di antara keduanya pada pilpres 2009.

Denny JA melalui artikelnya Tes Bagi Duet Yudhoyono Kalla
secara gamblang menjelaskan perbedaan mendasar antara kedua pemimpin tersebut.

Fakta pertama :
Hasil rapimnas partai demokrat yang tidak membicarakan secara langsung siapa yang mendamping SBY. Hal ini bisa menimbulkan banyak penafsiran diantaranya akan ada pengganti Jusuf Kalla sebagai cawapres mendampingi SBY.

Fakta kedua :
Pernyataan kontroversial wakil ketua umum partai demokrat yang dinilai melecehkan partai golkar. Dalam hitungan politis perolehan suara partai demokrat tidak akan mungkin melebihi partai golkar.

Walaupun pada artikel berikutnya, Menjaga SBY-JK
Bung Denny mencoba memberi gambaran suasana politik jika duet SBY – JK berpisah namun nampaknya konstelasi politik nasional dewasa ini justru kebalikannya.

Godaan kekuasaan lebih dominan mempengaruhi masing-masing kandidat. Hal ini secara otomatis membuat komitmen-komitmen antar partai sangat rapuh atau bubar.

Akankah duet SBY-JK mampu bertahan pada pilpres 2009?



Arah Politik Prabowo Menuju RI 1

In demokrasi on 7 Februari 2009 at 2:03 am

Seperti halnya pidato-pidato politik lainnya yang secara umum sarat dengan konten janji-janji manis. Begitu pula kira-kira gambaran dari pidato politik Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Saya tidak terlalu serius menanggapi pidato beliau. Tetapi saya lebih tertarik untuk menelaah makna politis beliau sehingga berani mengambil keputusan maju sebagai capres melalui Partai Gerindra.

Kalau kita mencoba mengambil dasar dari persyaratan untuk mengajukan calon sangatlah berat bagi Prabowo dengan Gerindranya untuk lolos. Mereka harus mampu mengalahkan dua kekuatan partai politik besar yakni Partai Golkar dan PDIP. Yang paling realistis adalah Gerindra membentuk koalisi dari salah satu partai besar tersebut.

Wiranto pun memiliki persoalan yang sama. Partai Hanura harus berjuang keras agar dapat memenuhi persyaratan sesuai dengan amanat UU.

Yang jadi pertanyaan, untuk apa dua orang mantan petinggi TNI ini mempertaruhkan diri dalam pilpres nanti?

Dari sudut politis tentu semuanya bisa saja terjadi. Dan tidak menutup kemungkinan pada detik-detik menentukan dua kekuatan ini bersatu membangun komitmen yang tentunya tidak bisa dipandang sebelah mata lagi. Kita tunggu tanggal mainnya!

Kalau koalisi ini terbangun maka akan muncul sekurang-kurangnya tiga kekuatan politik besar yang akan bertarung. Sedangkan partai-partai yang berbasiskan agama akan membagi diri diantara tiga kekuatan politik tersebut.

Adapun SBY dengan Demokratnya tentu masih harus bersabar menunggu hasil pemilihan legislatif. Dengan posisinya sebagai presiden, maka akan banyak sekali partai-partai kecil yang mengincarnya. Tentunya dengan harapan bisa nebeng popularitas.

Menghadang incumbent

In Tak Berkategori on 20 Oktober 2008 at 8:05 pm

Keinginan SBY untuk kembali maju dalam pemilhan presiden akan datang menjawab sudah teka-teki selama ini. Bahkan beliau pun secara tersirat masih menginginkan MJK untuk mendampinginya.
Nampaknya genderang perang telah ditabuh. Akankah ini isyarat serius bagi tokoh tokoh nasional yang selama ini getol menyuarakan perubahan kepemimpinan?
Bagi mereka tentu tidak ada jalan lain selain merapatkan barisan (koalisi) melawan pasangan incumbent tersebut. Kenapa harus koalisi? Kita kembali pada pengalaman selama ini partai yang berkuasa tidak bisa memerintah tanpa menggandeng partai lain yang lebih kecil. Bahkan semakin banyak partai yang bergabung semakin mempermudah partai tersebut menjalankan kekuasaannya. Namun koalisi yang dibangun atas dasar bagi-bagi kue kekuasaan tidak akan bisa bertahan lama. Ini karena komitmen partai sangat rentan oleh gesekan kepentingan.
Untuk itu tanpa ada komitmen kuat dari partai yang dibangun atas dasar kepentingan bangsa mustahil bisa langgeng. Sekarang memang sudah jelas posisi masing-masing kandidat hanya saja masih perlu ada rumusan baku yang disepakati oleh tokoh pembaharu tersebut sehingga akan lebih mengerucutkan nama yang akan tampil menghadapi incumbent tadi.
Berdasarkan survei terakhir dapat kita lihat adanya kecenderungan masyarakat untuk memilih wajah baru. Ini nampak dalam pencitraan diri Prabowo, Yusril atau Sutrisno. Dimana selama ini mereka mampu menempatkan diri sebagai tokoh nasional yang pantas memimpin republik ini. Hanya saja perlu diingat bahwa masih ada proses konsolidasi panjang yang harus dilalui oleh mereka dimana tidak menutup kemungkinan untuk saling memberi jalan agar lebih memudahkan pencapaian target.
Semuanya tentu terpulang pada partai-partai apakah mereka sanggup melepas ego partainya demi memuluskan jalan bagi mereka mencapai kekuasaan nasional.