qflee

Posts Tagged ‘ahmadiyah’

FPI, Kasus Monas dan BBM

In Hak Asasi Manusia on 9 Juni 2008 at 6:41 am

Apa yang dikhawatirkan selama ini akhirnya terjadi juga. Kasus monas adalah efek bom waktu yang dipasang sendiri oleh pemerintah. Dan tidak menutup kemungkinan akan terjadi efek domino ke daerah-daerah seluruh Indonesia.

Kasus Monas adalah pelajaran pahit bagi pemerintah bahwa isu-isu yang sangat sensitif hendaknya segera diselesaikan dengan cepat. Jangan dibuat terkatung-katung sehingga menimbulkan keresahan pada masyarakat. Tak bisa dipungkiri pemicu terjadinya kasus monas disebabkan karena ketidakpuasan kelompok tertentu dalam hal FPI (Front Pembela Islam) terhadap sikap pemerintah yang tidak tegas dalam menangani persoalan ahmadiyah. Sejak awal banyak pihak mengkhawatirkan terjadinya benturan antar umat.

Bahkan kecurigaan makin timbul saja setelah mendengar keterangan dari saudara Munarman yang mengatakan bahwa otak dari kasus Monas adalah oknum aparat sendiri. Hal ini tentu semakin meresahkan masyarakat ditambah lagi keberadaan saudara Munarman sampai saat ini tidak diketahui.

Apakah sinyalemen berbagai pihak yang mengatakan bahwa kasus Monas sengaja dibuat untuk mengalihkan perhatian masyarakat terkait dengan kerasnya desakan penolakan terhadap kenaikan harga BBM ? Wallahu alam bissawab.

Iklan

Seputar Ahmadiyah

In Tak Berkategori on 18 April 2008 at 1:23 pm

Kontroversi tentang aliran ahmadiyah masih saja terus berlanjut. Silang pendapat antara yang menentang dan mendukung keberadaan aliran ini untuk bisa berkembang dan bertumbuh di tanah air. Bahkan tak sedikit pendapat yang mengatakan bahwa ini sudah menjadi komoditas politik, entah benar atau tidak, wallahu alam. Tapi dalam diskusi akademik yang banyak digelar, ternyata masalah aliran ahmadiyah ini lebih di titikberatkan pada sisi kemanusiaannya (HAM). Sebagai nilai dasar dari demokrasi tentu beragam penafsiran yang muncul. Inilah celah yang didapat oleh mereka yang pro untuk membela keberadaan aliran sesat dan menyesatkan tersebut.

Bagi pandangan barat, pengekangan terhadap hak memeluk agama adalah sesuatu (absolut) yang melanggar HAM (demokrasi). Tapi sebaliknya kita (Indonesia) tidak bisa langsung begitu saja menerima pandangan tersebut. Sebab ada hal yang masih perlu diluruskan menyangkut pengakuan hak kemanusiaan tersebut. Apabila hak kemanusiaan tersebut tidak dibarengi dengan kewajiban (mutlak) menjaga tatanan atau kaidah-kaidah umum yang berlaku, itu berarti melecehkan demokrasi atau melanggar HAM

Iklim demokrasi di Indonesia yang sedang berkembang memang memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi warga negara khususnya dalam hal beribadah. Namun terkadang di salah artikan dan di salah gunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Ini dikarenakan mereka memberi nilai-nilai dasar demokrasi tersebut sesuai dengan selera dan kepentingannya sendiri. Kondisi seperti ini tentu tidak boleh dibiarkan terus menerus berlanjut. Janganlah kita mengagung-agungkan demokrasi sementara disisi lain kita justru menginjak-injak nilai universal tersebut.

Kembali kepada persoalan aliran ahmadiyah, mengapa masih terkatung-katung ? Padahal sudah jelas bahwa aliran ini telah keluar dari akidah islam itu sendiri. Sebagai muslim, syahadat itu adalah kaidah yang paling pokok (krusial) diantara kaidah-kaidah lainnya. Mengakui dengan sepenuh hati bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir adalah fakta. Bila ada pribadi, golongan atau atas nama agama yang memberi penafsiran yang berbeda dengan arti sesungguhnya kalimat tauhid tersebut ini tentu sudah melampaui batas atau dengan kata lain melanggar nilai-nilai demokrasi agama yang diyakininya.

Jadi mengapa kita masih terus terperosok dalam lingkaran diskusi yang tidak ada akhirnya. Debat akademis yang selalu mengkaitkan nilai kemanusiaan hanya kedok untuk menghindar dari celaan dan hujatan maupun label aliran sesat dan menyesatkan.  Apa kita masih bisa memberi toleransi terhadap aliran yang meyakini akan keberadaan seorang nabi setelah Muhammad ? Alasan apa lagi yang bisa memberikan pertimbangan kemanusiaan jika ada aliran yang merusak-rusak aqidah agama lain (Islam) Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang seharusnya dijawab bahwa tidak ada tempat bagi aliran-aliran sesat yang ingin mengobok-obok Islam baik di tanah air maupun di seluruh dunia.