I am come back!

Setelah sekian lama saya tidak update blog ini, Artikel Pendek, baik karena alasan masuk akal maupun mengada-ada. Tetapi, alhamdulillah, sekarang, tepatnya malam kamis, 21-Juli-2010 jam 11.29 PM, saya kembali mengisi kekosongan blog ini sekaligus untuk memanaskan otak yang sudah terlanjur beku ini.

Agak susah memang kalau kelamaan tidak pernah menulis lagi. Mau tulis topik apa saja bahkan sangat berat. Terlalu banyak topik tetapi sangat susah untuk menumpahkannya dalam bentuk tulisan. Malam ini, saya tidak akan terlalu fokus pada isu-isu yang berkembang selama ini, tetapi saya lebih condong untuk memancing jari-jari tangan ini agar kembali lincah menari-nari diatas keyboard.

Bagi teman serta sahabat setia blog ini, saya juga ingin mengucapkan selamat malam dan selamat berjumpa kembali di dunia tanpa batas ini. Mudah2an pertemenan kita selama ini bisa tetap langgeng.

Dan yang perlu saya garis bawahi disini adalah ucapan terima kasih saya kepada kejeniusan para sahabat di WordPress dan Blackberry sehingga mampu mengintegrasikan kedalam sebuah aplikasi yang sangat menyenangkan ini. Hanya saja kalau boleh saya meminta bagaimana agar aplikasi yahuud ini WordPress for Blackberry bisa juga diakses walau tanpa langganan BIS. Sekali lagi, ini hanya permintaan bukan pemaksaan kalau tidak bisa ya tidak apa-apa.

Wassalam

tambahan:
Bagi teman-teman yang ingin membantu agar blog saya yang satu ini, Soppeng Pos Online bisa terindex dengan cepat kiranya sudah untuk mampir dan beri salam dan komentar. Trims banyak!

Momok Politik Diantara Pragmatisme dan Apatisme

Berpolitik dengan santun dan beretika menjadi sangat langka di negeri ini. Yang paling menonjol adalah saling gontok-gontokan, menelikung satu sama lainnya. Kehidupan politik seperti ini menjadi momok dan entah sampai kapan berakhir.

Wajah politisi tak ubahnya muka seram yang menyeringai dan senantiasa siap menerkam mangsanya. Berbeda paham politik dianggap sebagai musuh yang harus dihancurkan.

Masyarakat yang sebelumya alergi dengan perpolitikan sekarang berubah menjadi euforia. Hal ini makin diperparah dengan sikap pragmatisme dan apatis masyarakat dengan keadaan lingkungan sekitarnya. Dalam bahasa gaulnya, mending mentahnya saja, begitu kira-kira.

Apa yang bisa kita harapkan dengan kondisi politik seperti ini? Pemimpin serta orang yang dipimpin acuh tak acuh. Kondisinya ibarat di tengah hutan belantara, dimana yang kuatlah paling berkuasa. Sedangkan yang lemah menjadi santapan atau kalau tidak tiarap sembunyi.

Kembali ke masalah gontok-gontokan, ini semua tidak lepas dari ketidaksiapan kita menyikapi makna sesungguhnya dari kebebasan itu.

Bebas diartikan semaunya, enak sendiri tidak peduli orang lain. Lebih keras menuntut hak tapi menganggap sepele kewajibannya. Toleransi dan gotong royong menjadi sangat mahal harganya.

Coba tengok kehidupan desa, gotong royong antar warga mulai memudar. Semuanya dihargai dengan uang dan materi. Tokoh-tokoh masyarakat (tomas) tak mampu berbuat banyak.

Kalau begini kepada siapa lagi kita mengadu? Saya pilih mengadu di Rumah Sehat Kompasiana saja. Bagaimana dengan Anda?

Qflee
http://www.kompasiana.com/qflee

SBY “Cuci Piring” Sendiri

Bagaimana sikap presiden terhadap rekomendasi tim 8 akan terjawab besok (23/11). Banyak pihak berharap apapun sikap presiden nantinya mampu “mendinginkan” suasana atas kisruh antara KPK-Polri-Kejaksaan.

Selama ini kita mengenal gaya kepemimpinan SBY yang ragu dan lamban dalam mengambil sikap. Pada waktu JK (Jusuf Kalla) mendampingi beliau, hal ini bisa ditutupi dengan gayanya yang serba cepat dan tidak terlalu birokratis. Dalam berbagai persoalan negara tak jarang kita lihat dominasi Pak JK dalam mengambil sebuah keputusan.

Wapres Boediono tidak memiliki karakter seperti itu. Bahkan dalam berbagai kesempatan beliau terus terang mengakuinya bahwa tak mungkin mengikuti gaya dan karakter JK.

Terkait kisruh ketiga lembaga penegak hukum tersebut. Presiden tidak mempunyai “orang” lagi yang bisa mengimbangi dinamisasi persoalan yang muncul. Media pun harus gigit jari. Tidak ada lagi kejutan-kejutan yang bakal muncul. Posisi seperti ini tentu sangat tidak nyaman bagi SBY. Selama periode pertama pemerintahannya praktis beliau tidak pernah menemui “lawan tanding” karena sebelumnya sudah “KO” duluan.

Apa boleh buat urusan rumah tangga yang selama ini dibebankan pada pembantu terpaksa dikerjakan sendiri. Maklum pembantunya pulang kampung. Jadi kita lihat saja bagaimana tuan rumah sendiri yang turun langsung membersihkan dapur dan cuci piring.

Geger Dunia Hukum Kita

Entah kebohongan apa lagi yang bakal muncul dalam kasus pembunuhan Nasaruddin Zulkarnaen. Dalam persidangan yang menghadirkan Williardi Wizard sebagai saksi, terungkap bahwa ada unsur rekayasa dan tekanan pada proses BAP. Kesan yang timbul adalah adanya upayanya rekayasa atas penahanan Antazari Azhar.

Geger dunia hukum kita kembali terjadi. Reaksi beragam pun bermunculan. Opini negatif publik pun langsung mengarah pada institusi kepolisian dan kejaksaan. Entah dosa apa yang telah diperbuat oleh dua institusi hukum tersebut. Yang pasti persepsi publik yang tercover oleh media atas dua lembaga penegak hukum tersebut sudah tidak ada lagi bagusnya.

Prestasi kepolisian membongkar jaringan terorisme seperti tak ada lagi artinya jika dibandingkan dengan reaksi facebookers. Kecaman dan hujatan menjadi menu wajib kepolisian akhir-akhir ini.

Kita tentunya tidak boleh membiarkan hal seperti ini terjadi. Karena ini adalah murni masalah hukum tentu sangat tidak baik jika selalu dikait-kaitkan dengan adanya upaya rekayasa politik. Upaya menggiring kasus ini seolah-olah ada aktor besar dibelakang semua ini malah bisa mengaburkan persoalan sesungguhnya. Apalagi dengan menggiring opini publik untuk menyudutkan salah satu pihak.

Biarkan proses hukum berjalan dengan wajar. Dan apapun yang telah menjadi putusan tentunya sebagai warga yang taat hukum kita semua wajib menghormatinya

KPK-POLRI Dan Rekayasa Media

Gelombang tekanan berbagai elemen masyarakat dalam menyikapi kisruh antara KPK-POLRI memberi dampak yang tak terduga sebelumya. Dukungan besar dari publik yang dituangkan dalam berbagai aksi di media membawa kita pada paradigma baru dalam memandang peran media massa di era kekinian.

Di era pemerintahan otoriter sekalipun tak luput dari gempuran aksi-aksi moral publik melalui beragam media yang mudah diakses kapan dan dimanapun. Efek bola salju tak terhindarkan yang pada gilirannya mampu mengubah pandangan umum masyarakat atas sebuah isu yang diangkat.

Dalam benak timbul pertanyaan, betulkah dengan sebuah rekayasa media massa mampu menjadi saluran efektif bagi tercapainya sebuah tujuan. Akankah ini menjadi trendi bagi para penggiat LSM maupun organisasi kemasyarakatan lainnya dalam memperjuangkan cita-citanya?

Mengambil hikmah dari kasus diatas, gerakan para facebookers istilah lain dari jaringan pertemanan online melalui gerakan sejuta dukungan untuk Bibit-Chandra pimpinan KPK non aktif terbukti sukses mengumpulkan ratusan ribu lebih fans hanya dalam waktu singkat.

Disisi lain sebenarnya masih ada isu yang mempunyai dampak hukum dan ekonomi begitu besar bagi masyarakat tapi nyatanya tidak dilirik oleh media massa.

Advokat terkenal O. C. Kaligis dalam wawancara eksklusif dengan Metro TV mengaku sangat heran dengan menderu-derunya pemberitaan tentang Bibit-Chandra. Beliau sendiri mempertanyakan ada apa dibalik getolnya media memblowup kasus ini sedang dipihak tersangka sendiri diam seribu bahasa.

Disinilah peran para aktor intelektual dibutuhkan dalam menyikapi sebuah isu. Memainkan sebuah keywords yang dapat menjadi magnet bagi media sekaligus menggunakannya untuk membentuk opini yang pada akhirnya mampu mengubah keputusan sesuai dengan tujuan yang dikehendakinya.

Peran Media Dibalik Kasus Penahanan Bibit-Chandra

Mencuatnya isu kriminalisasi lembaga KPK melalui berbagai media menunjukkan betapa peran media sangat vital.

Penggalangan opini atau lebih tepat kalau dikatakan menggiring pemahaman publik untuk menyudutkan pihak-pihak tertentu dan sebaliknya memposisikan pihak lainnya sebagai “hero”

Kasus dua lembaga tinggi negara ini menjadi menarik untuk dicermati. Peran keduanya menjadi sangat menentukan masa depan bangsa ini. Masyarakat pun tentunya berhak tahu ada apa sebenarnya yang terjadi.

Argumen masing-masing pihak sudah benar adanya. Namun sebagai negara hukum tentunya semua harus dikembalikan pada aturan-aturan. Mari kita lihat episode selanjutnya. Dan apapun hasilnya tentunya semua pihak harus menghormatinya.

Pendet Traditional Dance

The unilateral claim the Malaysian government on traditional art of the Pendet Dance as well as various original styles of the Indonesian culture prove how the “competition” between the two countries not only in the strength of the military.

The wave the protest then springs up. All of them regret the Malaysian government attitude that does not appreciate original Indonesian culture. Although in the long run the Malaysian government gives clarification on this incident. Apparently the heart of the Indonesian people has been already done the wound.

In fact already many cases that involve the two countries. However so far hue strength of diplomacy evidently still an very effective. This is definitely not free from the history of the two countries. But really is worried if the condition like this happens repeatedly. At least we gave the opportunity for the third party to take the profit. Do not close the possibility of these tactics of being to weaken to one another the strength of ASEAN countries so as in the long run facilities on the control of politics and economics respectively the countries.

The Malaysian government preferably immediately stops carrying out provocative actions on Indonesia. As efforts to maintain the regional condition situation stay conducive. If not, the war that was not all beneficial happen for the two countries.

Vandalisme Mahasiswa


Tawuran mahasiswa kembali terjadi. Dunia pendidikan kembali tercoreng noda hitam. Aksi tawuran anarkis antara mahasiswa UKI dengan YAI ini seolah menjadi pembenar bahwasannya ada yang salah dalam sistim pendidikan kita. Mereka dididik bukan untuk menjadi preman tapi kenyataannya dunia kampus seperti menjadi sarang preman.

Tindakan mereka tak ubahnya preman kampung. Bertindak emosional sangat jauh dari kesan kaum intelektual. Apa sebenarnya yang mereka cari? Bentuk ekspresi diri tapi caranya norak dan tak bermoral. Inilah produk pendidikan yang salah urus. Dimana keberhasilan seorang anak didik dilihat pada ijazah semata. Padahal jenjang pendidikan bukan hanya sebatas ujian dan lulus atau tidak. Perilaku, watak, kepribadian menjadi faktor pelengkap semata.

Tindakan tegas aparat keamanan memang sangat diperlukan dalam menangani aksi anarkis mahasiswa tersebut. Selama ini kita tidak pernah mendengar oknum preman yang berlindung dibalik kampus ini dihukum seberat-beratnya. Begitu pula dengan pihak universitas, mereka tidak boleh main-main dengan kasus tersebut. Tindakan vandalisme tidak boleh dibiarkan berkembang biak di dunia kampus serta bersemayam dalam diri para generasi penerus bangsa ini.

Belajar Dari Semut


Semut makhluk kecil yang selalu dipandang rendah. Bentuk fisik yang kecil, tempatnya yang kotor. Melirik pun kadang kita ogah. Namun pernahkah terlintas dalam benak kita, semut yang buruk pura ini ternyata mempunyai sifat yang selama ini sudah menjadi langka di negeri ini.

Terkadang kita merasa kesal jika makan minum kita dikerubutin semut. Tapi kita tidak pernah bisa belajar dari seekor semut. Malah dengan mudahnya kita membunuhnya.

Coba kalau kita mau merenung sebentar. Betapa sederhananya makhluk kecil ini. Walaupun kita beri 1 liter gula mereka pun hanya mengambil satu biji. Tidak lebih dan tidak kurang. Bandingkan dengan kita, sudah diberi fasilitas berbagai macam tapi masih tetap mengeluh kekurangan. Bahkan tanpa malu-malu masih mengambil lagi milik orang lain alias korupsi.

Mereka pun tidak banyak bicara tapi banyak kerja, bahkan dengan semangat gotong royong tanpa pamrih. Berbeda dengan sikap masyarakat sekarang, semuanya diukur dengan materi. Tidak ada lagi semangat gotong royong. Untuk piket ronda malam saja sudah enggan kalau tidak dibayar, wah gawat!

Mumpung lagi pada sibuk bicara capres, apakah ada dari beberapa figur pemimpin nasional kita yang memiliki karakter semut tadi? Atau jangan-jangan mereka pun enggan mengakuinya. Dan masih dengan sikap angkuh menganggap apa yang mereka miliki sekarang masih kurang dari cukup dan tetap bernafsu menambah pundi-pundi harta tanpa mau peduli dengan orang lain yang kurang beruntung. Wallahu alam bissawab.

Trims buat Maslych atas inspirasinya http://my.opera.com/Maslych/blog

Facebook Haram


Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengharamkan FACEBOOK, jaringan sosial online yang sedang trend dikalangan anak muda menjadi pro kontra. Keputusan yang sama kontroversialnya saat merokok juga dinyatakan haram.

Kenapa lembaga terhormat, dimana berisi para ulama-ulama serta ahli-ahli agama ini sampai terlalu jauh mengintervensi hal-hal yang pada dasarnya tidak terlalu substansial dengan kehidupan beragama masyarakat. Apa bedanya kemajuan teknologi sms/mms (pesan singkat) dengan facebook tersebut.

Kita tentunya tidak berprasangka buruk terhadap keputusan lembaga tersebut. Namun hendaknya lembaga tersebut tidak mengobral fatwa-fatwanya hanya untuk mencari popularitas semata. Toh di internal mereka juga masih terjadi perbedaan persepsi. Ini sama saja dengan mempertontonkan kekonyolan sendiri.

Kalaupun selama ini banyak yang mengasumsikan bahwa dengan keberadaan facebook membuat angka perceraian akibat selingkuh makin tinggi tentu masih harus ditelaah lebih jauh lagi. Memang teknologi disamping memberikan nilai positif tentu disisi lain juga mempunyai pengaruh negatif. Namun pada dasarnya itu semua kembali kepada diri masing-masing.

Jangan lupa, teknologi dengan berbagai kemudahannya hanyalah semacam tools sedangkan motor penggerak utamanya adalah manusia itu sendiri.

Sebagai warga masyarakat tentu mempunyai harapan-harapan sekiranya lembaga MUI dapat mereview kembali keputusan kontroversial tersebut. Masih banyak persoalan-persoalan bangsa yang sepatutnya menjadi fokus lembaga ulama kita ini.