qflee

Archive for the ‘catatan pendek’ Category

Sondang, Robin Hoodnya Indonesia

In catatan pendek on 28 Desember 2011 at 3:25 am

Robin Hood bukan lagi sebagai sosok yang membela rakyat miskin dengan cara merampok atau mencuri dari kalangan berada untuk dibagikan kepada mereka yang membutuhkan (miskin). Robin Hood berubah menjadi sosok yang tampil kedepan memperjuangkan hak-hak dasar rakyatnya dan menentang pemerintahan tirani serta korup.

robin hood

Rakyat yang tertindas dan tertekan secara ekonomi telah melahirkan pahlawan baru ditengah-tengah mereka. Mereka secara lantang dan terang benderang menentang pemerintahan/raja yang semena-mena terhadap rakyatnya. Kesetiaan kepada pemerintahan harus dibayar mahal dengan mengorbankan harta dan nyawa rakyat sendiri.

Bangsa Indonesia pun terkungkung dengan persoalan yang sama dan bahkan lebih berat. Kemiskinan dan kemelaratan menjadi bagian keseharian rakyat. Pemerintahan pun lupa kewajibannya. Mereka terlena oleh kemewahan dan kekuasaan. Tak peduli dengan nasib rakyatnya sendiri. Persoalan demi persoalan yang muncul belakangan ini adalah buah ketidakpedulian pemerintah terhadap nasib rakyat sendirinya. Maka tak heran, dimana-mana bermunculanlah sosok-sosok pahlawan baru (Robin Hood) yang berontak dan menggalang kekuatan rakyat melawan pemerintahan sendiri.  Semakin banyak korban yang jatuh semakin banyak pula bermunculan pahlawan-pahlawan baru yang semakin keras menentang dan melawan pemerintahannya. Pendekatan kekuasaan dilawan pula dengan kekerasan. Pemerintah juga semakin asyik untuk membela diri sendiri tanpa mau mendengarkan keluh kesah rakyatnya.

Akankah aksi penentangan rakyat ini akan mengakibatkan pemerintahan mau bertobat dan berhenti mempermainkan rakyat sendirinya. Kita menunggu dan melihat bermunculannya Robin Hood baru dengan mengangkat tema perjuangan membela rakyat dari ketertindasan dan kemelaratan yang selama ini  semakin sering kita jumpai dimana-mana.

Pemerintahan ada karena dukungan rakyat. Tanpa dukungan dari rakyat maka pemerintahan sudah pasti jatuh. Pemerintahan butuh dukungan rakyat dan sebaliknya rakyat membutuhkan perlindungan dari sebuah pemerintahan yang jujur dan bersih. Kenyataan sekarang sangat jauh dari harapan. Pemerintah dan rakyat jalan sendiri-sendiri. Pemerintah sibuk memperkaya diri sendiri atau konco-konconya sedangkan rakyat berjuang keras keluar dari lubang kemiskinan dan kemelaratan.

Kekerasan demi kekerasan tidak akan menyelesaikan persoalan malah akan memperparah keadaan. Rakyat semakin mudah terprovokasi dan menjadi anarkis. Jika semuanya berpegang teguh pada prinsip masing-masing tidak akan bisa tercapai sebuah solusi bijak. Aturan-aturan yang dibuat menjadi tidak berarti apa-apa. Hukum hanya berpihak kepada pemilik modal sedangkan rakyat hanya bisa berteriak tanpa ada yang ada mendengarkannya.

Coba kita lihat betapa tragisnya aksi seorang Sondang dalam aksinya membakar diri sendiri. Tidakkah kita gentar dengan semangat kaum muda yang begitu radikal menentang kezaliman penguasa? Tragedi berdarah di Mesuji juga sangat jelas terpaparkan betapa mengerikannya jika pemegang asli kedaulatan negara ini sudah bertindak. Apa jadinya jika diseluruh Nusantara bermunculan para Sondangers?

Iklan

Partai Demokrat di Ujung Tanduk

In catatan pendek on 28 Mei 2011 at 3:40 am

Kisruh ditubuh partai demokrat ini semakin memanas dan mengarah pada  perpecahan antar kader demokrat sendiri. Kasus M. Nazaruddin, Bendahara Umum PD bahkan telah menyeret nama-nama lain elite partai. Sebagai partai pemenang pemilu, para petinggi partai harus kerja ekstra agar kasus ini tidak berdampak pada perolehan suara nantinya.

Sejak kasus Wisma Atlet mencuat, banyak pihak berharap agar kasus ini secepatnya dituntaskan. Apalagi dikaitkan dengan nama PD serta keberadaan SBY sebagai Ketua Dewan Pembina partai yang selama ini mendengung-dengungkan gerakan pemberantasan korupsi. Tak ayal, KPK pun langsung mengambil sikap dengan mengeluarkan surat  cekal terhadap M. Nazaruddin.

Sikap partai sendiri sudah jelas dengan memberhentikan Nazaruddin sebagai pengurus partai. Walau banyak juga yang menyayangkan karena  tidak diberhentikan sebagai anggota DPR. Tapi setidak-tidaknya langkah ini telah menunjukkan bahwa PD  tidak akan main-main dengan kasus korupsi.

Hanya saja, menghindarnya M. Nazaruddin ke Singapura  serta pro kontra antara kader dalam menyikapi kasus ini ternyata luput dari pengamatan SBY sebagai pembina partai. Situasi perpecahan di tubuh partai pasca pemecatan M. Nazaruddin nampaknya tak bisa terhindarkan.

Mampukkan  PD keluar dari persoalan ini? Apakah tanda-tanda perlawanan kader terhadap pembinanya menunjukkan PD berada dalam posisi sulit? Tentunya kita harus menunggu lagi langkah-langkah yang akan diambil para elite partai nantinya.

Bencana Datang Elit Meradang

In catatan pendek on 2 November 2010 at 8:54 am

Bencana datang silih berganti menimpa bangsa ini. Jeritan anak-anak bangsa yang mencoba bertahan dari terpaan cobaan. Pemerintah dan segenap relawan kemanusiaan diturunkan untuk membantu sesama yang tertimpa musibah.

Tsunami di Mentawai dan Letusan Gunung Merapi membuat kita terhenyak dari kursi santai. Betapa saudara-saudara kita disana berjuang hidup dan mati. Betapa banyak korban jiwa dan harta. Semua serba memilukan dan memiriskan.

Sorotan demi sorotan yang dialamatkan kepada pemerintah. Tudingan atas kelambatan menangani bencana menjadi biang kerok perdebatan dewasa ini. Ujung-ujungnya selalu bermuara pada sikap dan karakteristik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Lebih serunya lagi, semua kejadian alam disertai dengan bencana ini selalu dikaitkan dengan “kesialan” sang pemimpin. Takhayul murahan ini justru lebih rame diperdebatkan dibandingkan dengan aksi langsung turun membantu korban bencana.

Selebihnya kita semua sudah bisa menebak. Membanding-bandingkan sosok JK dengan tagline “lebih cepat lebih baik” dengan karakteristik SBY yang sering diplesetkan Susislow Bimbang Youdontknow.

Sikap para politisi serta elit justru disibukkan dengan persoalan sepele. Masing-masing mengklaim telah melakukan hal yang benar dan tepat dalam menangani bencana. Korban bencana hanya bisa melongo heran melihat para elit sibuk berdebat dan meradang

Lantas kenapa kita masih harus berkutat dengan persoalan siapa benar dan salah. Sedangkan jelas-jelas dilapangan para korban sangat membutuhkan uluran tangan dari para dermawan. Kenapa kita harus bersitegang dengan pernyataan bodoh seorang wakil rakyat. Apakah dengan semua itu persoalan bencana bisa diselesaikan?

Bagi para elit sekarang saatnya membuktikan semua janji-janji manis kepada rakyat. Janji sebagai partainya rakyat kecil buktikan dengan turun langsung membantu para korban. Janji sebagai partai pelindung dan pengayom masyarakat, ayo penuhi dengan bertatap muka langsung dengan para korban. Janganlah energi bangsa ini terbuang percuma dengan mengurus hal yang tidak ada manfaatnya.

Kalau semua energi bangsa kita satupadukan tentu sangat membantu para saudara-saudara kita yang terkena bencana. Kalaupun belum bisa penuhi janji-janji di atas, mencoba berdiam diri dari mengeyampingkan untuk sementara semua hal yang berbau politis adalah langkah yang sangat bijaksana.

SBY Takut RMS

In catatan pendek on 19 Oktober 2010 at 1:05 am

Presiden SBY membatalkan kunjungannya ke Belanda karena takut dengan RMS. Desas desus beredar kalau beliau akan ditangkap setiba di negeri kincir angin tersebut. Serunya! Pembatalan ini justru terjadi ketika iring-iringan rombongan presiden sedang menuju Halim Perdana Kusuma.

Dalam keadaan begini, sontak membangkitkan rasa nasionalis kita. Ada urusan apa Belanda kok tiba-tiba mau menangkap presiden kita. Ini sama saja kalau mereka menginjak-injak harga diri kita sebagai sebuah negara berdaulat. Presiden adalah simbol negara yang harus dijaga, baik itu di negeri sendiri maupun di luar negeri.

Pemerintah Belanda tidak seharusnya memberi peluang kepada gerakan separatis RMS. Apalagi jika sampai membahayakan keselamatan tamu negaranya. Kalau hal seperti ini dibiarkan bisa saja memicu ketegangan hubungan antara kedua negara.

Toh selama ini perlakuan pemerintah terhadap tamu-tamu negara termasuk Belanda sudah sangat baik. Keselamatan tamu negara, baik itu presiden maupun pejabat lainnya selalu menajdi prioritas penting.

Presiden SBY pun seyogyanya tak perlu takut dengan gertakan dari RMS. Sedikit saja kita memperlihatkan rasa “takut” bagi mereka sudah berarti kemenangan besar. Mereka selama ini berusaha memainkan isu di luar negeri karena memang di tanah air sendiri “jualan” tersebut sudah kurang laku lagi. Masyarakat sudah cerdas memilih mana dan tidak gampang lagi dipropaganda.

Masalahnya, sisa-sisa pendukung RMS yang nota bene adalah mantan KNIL tetap menuntut tanah harapan yang telah dijanjikan. Inilah sebenarnya substansial dari munculnya gerakan separatis RMS. Bisa saja pemerintah meninjau kembali tuntutan tanah yang dijanjikan tersebut dengan syarat mutlak tidak mengorbankan NKRI.

Pemerintah Belanda pun tidak punya hak untuk mengatur apalagi mengobok-obok kedaulatan negara kita. Dengan mencoba meminjam kaki tangan RMS di pengasingan bukan berarti mereka leluasa memainkan peran ganda. Indonesia tentuya harus tegas dalam hal kedaulatan negara. Negara manapun yang mencoba mengintervensinya tentu tidak bisa ditolerir.

Pemutusan kerjasama yang terbatas antar kedua negara bisa saja ditempuh guna mengingatkan bahwa kita tidak main-main dengan kedaulatan negara. Hal ini harus dilakukan untuk memperlihatkan kepada negara lain bahwa Indonesia tidak suka dengan perlakuan seperti itu.

Waspada Poso Jilid II

In catatan pendek on 13 September 2010 at 9:52 pm

Hubungan antara umat beragama kita kembali terusik dengan adanya insiden penusukan pendeta di Bekasi. Peristiwa ini bertepatan dengan perayaan hari besar Islam yakni lebaran. Berbagai reaksi bermunculan atas tindakan brutal tersebut. Namun intinya kita harus waspada dengan usaha propvokasi memecah belah kerukunan umat beragama.

Isu yang paling sensitif dan sangat mudah menyulut kemarahan massa adalah isu agama. Sehingga pihak-pihak yang tidak senang dengan kondisi kerukunan antar umat beragama selalu mencoba mengail di air keruh. Insiden ini juga menjadi headline koran-koran utama di luar negeri.

Kita sebagai umat tentu tidak semudah itu terpancing. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, adanya gerakan yang di motori oleh salah satu tokoh agama di AS, akan membakar kita suci Al-Quran. Gerakan yang dimaksudkan sebagai simbol peringatan tragedi 11 September.

Upaya saling serang melalui simbol-simbol agama inilah yang diharapkan bisa menghancurkan toleransi umat yang selama ini kita jaga. Ingat, tragedi Ambon dan Poso adalah salah satu hasil cipta dari tangan-tangan kotor yang menghendaki republik ini bubar.

Kita semua tentunya tidak mau kejadian seperti itu terulang kembali. Biarkanlah aparat keamanan bekerja dan mari kita semua mengawal dan menjaganya. Dan bagi para pelaku tentunya tidak ada kata lain harus mendapatkan ganjaran yang setimpal.

Sedangkan penertiban tempat-tempat ibadah baik masjid maupun gereja merupakan hal yang harus diselesaikan secepatnya. Jangankan persoalan izin, pengaturan sound system (pengeras suara) masjid saja belum jelas. Di beberapa tempat, terkadang masjid yang satu berdekatan dengan masjid lainnya dan masing-masing berlomba mengeraskan volume pengeras suaranya, bukankah hal ini juga perlu penertiban?

Di Kota Soppeng, pengaturan tentang pemakaian pengeras suara tersebut melalui Majelis Ulama setempat, baca di sini, walaupun masih bersifat himbauan namun setidak-tidaknya ada langkah antisipasi yang dilakukan.

Saudara Kok Diganyang?

In catatan pendek on 13 September 2010 at 9:49 pm

Mendengar kata perang membuat buluku merinding. Ya, perang atau saling membunuh antar manusia, pertumpahan darah dimana-mana. Akankah kita masih ingin menyuarakan perang kalau kita tahu dampak dari perang itu sendiri?

Keinginan kuat untuk berperang atas nama harga diri dan kehormatan bangsa bukan dilandasi atas kesadaran serta akal sehat. Apalagi pihak yang ingin diperangi adalah negara yang mayoritas warga muslim dimana dalam Islam sesama muslim adalah saudara sendiri.

Provokasi seperti ini untungnya masih ditanggapai dingin oleh mayoritas anak bangsa, terkhusus para pemimpin kita, sehingga tidak larut dalam emosi. Beruntung karena masih banyak yang cinta damai.

Lantas, bagaimana solusi atas hubungan kedua negara ini (RI-Malaysia)? Hubungan yang sudah terjalin sekian lama dan dengan berbagai persoalan sudah dilalui. Terkadang mesra dan dilain waktu kedua pihak saling ngambek.

Setelah sekian lama melalui gelombang pasang surut ini, hubungan kedua negara bukankah justru semakin harmonis dan lebih saling memahami. Memang terkadang ada pihak yang merasa disakiti atau dikhianati tetapi bukan lantas itu membuat keduanya jadi mata gelap dengan mengorbankan hubungan yang sudah lama terjalin.

Perang tidak hanya mengoyak-ngoyak wilayah tetapi juga menyisakan berbagai persoalan kemanusiaan yang begitu tragis. Terpisahnya orang tua dengan anak-anaknya, suami dengan istrinya, dendam yang tidak berkesudahan. Masihkah kita mau berperang jika cuma itu tujuannya?

Sekali lagi, jalur diplomasi adalah solusi yang paling elegan. Tidak ada satu persoalan pun yang tak terselesaikan sepanjang kedua pihak mau duduk bersama. Terkadang memang diplomasi harus tegas tapi bukan berarti mengajak perang. Lihat saja bagaimana sepak terjang Bapak Jusuf Kalla ketika masih menjadi Wakil Presiden, sebagaimana diceritakan di Kompasiana, Diplomasi Ala Bugis.

Perang bagi kedua negara (RI-Malaysia) hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu. Sekali mesin perang jalan maka rakyat kedua negara yang menjadi korban.

Pelecehan Seksual Paskibra

In catatan pendek on 18 Agustus 2010 at 4:49 am

TEMPO Interaktif, Jakarta -Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengecam keras tindakan pelecehan seksual yang dialami siswi yang tergabung dalam Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) Pemprov DKI Jakarta 2010.

“Beliau mengecam keras dan minta kasus ini diusut tuntas,” ujar Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta Cucu Ahmad Kurnia saat dihubungi, pagi ini.

Sumber: Tempointeraktif
http://www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2010/08/18/brk,20100818-271990,id.html

Indonesia Kehilangan Ruh

In catatan pendek on 5 Agustus 2010 at 3:00 am

Betulkah Indonesia telah kehilangan ruh? Pertanyaan ini muncul seketika membaca pernyataan peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mochtar Pabbotingngi dalam sebuah seminar baru-baru ini.

Jangan-jangan selama ini kita sebagai sebuah bangsa yang besar ternyata hanya ibarat tubuh tanpa jiwa. Apakah ada relevansinya dengan berbagai dinamika sosial politik yang menyesakkan dada?

Berbagai macam pertanyaan muncul dalam benak, melihat kondisi bangsa yang sepertinya tidak jelas arah dan tujuannya. Selama ini kita telah menaruh harapan besar terhadap reformasi namun kenyataannya tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Lihat saja disekeliling kita, masyarakat menjadi acuh tak acuh dengan keadaan. Guru-guru tidak lagi ambil pusing dengan anak didik mereka. Yang terpenting adalah bagaimana mengurus dana BOS serta bantuan-bantuan asing lainnya. Para pegawai negeri juga bermalas-malasan bekerja, dalam pikiran, buat apa kerja keras toh yang dapat promosi paling kerabat dekat pejabat dan orang berduit saja.

Para ulama dan tokoh-tokoh masyarakat memilih diam dan bersembunyi. Mereka takut bersuara ditengah keadaan yang serba tidak pasti ini. Remaja asyik dengan dunianya sendiri. Mereka bingung kepada siapa lagi yang bisa diajak duduk bersama dan berdiskusi.

Pemimpin pun tak mampu berbuat banyak. Kondisi politik membuat mereka memilih jalur yang aman. Sangat susah kita menemukan sosok pemimpin yang tegas dan berpihak pada rakyat banyak. Pemimpin menjadi jauh dengan rakyat. Mereka lebih condong ke kelompok atau organisasinya dan para pemilik modal.

Indonesia telah kehilangan ke Indonesiaannya 😦

Cerita Seru Dibalik Blogging Day Kompasiana

In catatan pendek on 31 Juli 2010 at 8:49 pm

Ada pengalaman menarik saya alami ketika mengikuti Lomba Menulis yang diselenggarakan oleh Kompasiana bekerjasama dengan Bank Syariah. Dan saya yakin, banyak juga peserta yang mengalami hal serupa.

Awalnya gaung Blogging Day membahana di belantara dunia maya. Lomba dengan iming-iming hadiah yang menggiurkan tentunya. Ada laptop, kamera digital, HP dan perangkat digital lainnya. Namun siapa sangka, lomba yang dirancang untuk memecahkan rekor tulisan terbanyak ini justru membuat banyak pihak kecewa dan sakit hati.

Ide panitia dengan membatasi waktu penulisan yaitu hanya 100 menit pada jam-jam ketika kebanyakan orang sibuk ber internet ria membuat server Kompasiana anjlok. Coba dibayangkan, pada waktu bersamaan ratusan orang berusaha untuk mempublish tulisan. Ini ibarat mobil pemadam kebakaran menyemprot pakai pipet (sedotan). Apalagi kita tahu kalau kondisi jaringan internet di tanah air sangat lamban (lelet).

Berangkat dari situasi inilah yang mengawali pengalaman menarik seperti yang saya sampaikan tadi. Betapa tidak, pada saat lomba berlangsung tiba-tiba sangat susah untuk login ke halaman kompasiana. Sedangkan hitung mundur terus berlangsung. Saya sampai putus asa dan mendongkol dalam hati.

Berapa kali saya coba publish tetap saja tidak bisa. Mencoba buka dengan browser lain tetap saja tidak ada jalan masuk. Setelah beberapa kali mencoba, saya akhirnya memutuskan untuk berhenti saja. Barangkali bukan takdir saya untuk bisa berpartisipasi dalam lomba tersebut, apalagi menjadi pemenangnya, mimpi kali ye?

Keesokan harinya, tiba-tiba saya dikejutkan dengan email yang masuk di inbox. Dari subjeknya jelas bahwa email masuk tersebut adalah notifikasi komentar dari sebuah artikel. Kepikiran juga siapa yang iseng kasih komentar, ternyata komentar yang masuk adalah komentar untuk artikel yang kemarin susah amat terpublish. Oh My God, tulisan saya ternyata bisa terbit dan ikut lomba. Saya pun bergegas buka Kompasiana untuk lebih memastikan, dan ternyata betul, tulisan ini nongol juga. Lebih serunya lagi, teman-teman Kompasianer memberi vote pada tulisan tersebut 🙂

Sekarang artikel tersebut bisa dinikmati sekaligus dinilai oleh para pembaca sekalian. Pada kesempatan ini, saya juga meminta kesediaan para teman-teman untuk mendukung tulisan tersebut dengan cara memberikan vote.

Demikianlah sepenggal pengalaman yang saya alami ketika mencoba mengikuti Blogging Day. Mudah-mudahan kedepannya, Kompasiana lebih sukses lagi dan bagi para kompasianer yang kebetulan belum sempat berpartisipasi, saya hanya bisa berkata jangan putus asa. Tetap gelorakan semangat untuk menulis. Keep writing!

Please vote disini dan terima kasih atas votenya, Salam
Kompasianer qflee

I am come back!

In catatan pendek on 21 Juli 2010 at 3:45 pm

Setelah sekian lama saya tidak update blog ini, Artikel Pendek, baik karena alasan masuk akal maupun mengada-ada. Tetapi, alhamdulillah, sekarang, tepatnya malam kamis, 21-Juli-2010 jam 11.29 PM, saya kembali mengisi kekosongan blog ini sekaligus untuk memanaskan otak yang sudah terlanjur beku ini.

Agak susah memang kalau kelamaan tidak pernah menulis lagi. Mau tulis topik apa saja bahkan sangat berat. Terlalu banyak topik tetapi sangat susah untuk menumpahkannya dalam bentuk tulisan. Malam ini, saya tidak akan terlalu fokus pada isu-isu yang berkembang selama ini, tetapi saya lebih condong untuk memancing jari-jari tangan ini agar kembali lincah menari-nari diatas keyboard.

Bagi teman serta sahabat setia blog ini, saya juga ingin mengucapkan selamat malam dan selamat berjumpa kembali di dunia tanpa batas ini. Mudah2an pertemenan kita selama ini bisa tetap langgeng.

Dan yang perlu saya garis bawahi disini adalah ucapan terima kasih saya kepada kejeniusan para sahabat di WordPress dan Blackberry sehingga mampu mengintegrasikan kedalam sebuah aplikasi yang sangat menyenangkan ini. Hanya saja kalau boleh saya meminta bagaimana agar aplikasi yahuud ini WordPress for Blackberry bisa juga diakses walau tanpa langganan BIS. Sekali lagi, ini hanya permintaan bukan pemaksaan kalau tidak bisa ya tidak apa-apa.

Wassalam

tambahan:
Bagi teman-teman yang ingin membantu agar blog saya yang satu ini, Soppeng Pos Online bisa terindex dengan cepat kiranya sudah untuk mampir dan beri salam dan komentar. Trims banyak!