qflee

Kudeta SBY Tunggu TNI

In demokrasi on 22 Oktober 2010 at 1:56 am

Mencoba mengkudeta SBY dengan memakai pola aksi serupa yang dipakai pada Soeharto bagai pungguk merindukan bulan. Mungkin saja gerakan massif dewasa ini mendapat simpati dari masyarakat luas, tetapi tanpa keterlibatan elemen tentara berarti sama saja menggali lubang kubur sendiri.

Aksi jalanan apalagi yang dilakukan secara sporadis oleh mahasiswa justru membuat isu melebar dan tidak fokus. Bagi masyarakat internasional hanya memandang sebagai riak-riak kecil dari sebuah demokrasi. Aksi demo kaos merah di Thailand contoh nyata betapa rapuhnya sebuah agenda politik tanpa dukungan penuh dari militer.

Lalu bagaimana dengan sikap TNI? Menarik kita cermati karena pasca jatuhnya rezim Soeharto praktis tentara kehilangan patron politik. Akses utama menuju wilaya abu-abu tertutup sudah.

Bangsa Indonesia tentu sangat beruntung karena memiliki lebih banyak tentara nasionalis dibanding opportunis. Dalam keadaan seperti itu, TNI lebih aman memilih jalur netral. Memilih mundur untuk menang bukan saja meredam tekanan dalam dan luar negeri tetapi memanfaatkannya untuk segera melakukan konsolidasi dan reformasi di tubuh TNI itu sendiri.

Bagi yang anti SBY, ini berarti warning. Bahwasannya timing untuk menjatuhkan pemerintah untuk saat ini belumlah tepat. Mereka masih harus banyak-banyak bersabar dan berdoa agar tentara kita bisa lebih cepat menyelesaikan reformasi sehingga lebih mudah untuk mengajak mereka masuk dan bertarung di wilayah abu-abu.

Dan sampai saat ini belum ada satupun tokoh-tokoh yang sekarang dianggap berseberangan dengan pemerintah mempunyai kapasitas dan mampu diterima dikalangan internal TNI. Tokoh sipil yang bisa membawa menjaga kepentingan tentara belumlah muncul kepermukaan.

Intinya dalam sebuah negara demokrasi apabila semua kanal aspirasi tersumbat dan pembungkaman terhadap hak sosial, politik dan ekonomi maka sah-sah saja kudeta diberlakukan terhadap rezim yang sudah pasti korup dan diktator. Jadi upaya kudeta yang dihembuskan oleh berbagai kalangan hendaknya dimaknai sebagai upaya untuk membuka kanal-kanal tersebut dan mengembalikan kedaulatan sosial, politik dan ekonomi kepada pemiliknya. Kalau saja upaya tersebut berhasil, lantas untuk apa lagi kita harus turun ke jalan berpanas-panasan?

Iklan
  1. Percuma kudeta kalau tidak punya misi dan orang-orang yang siap menjalankan misi itu. seperti halnya kudeta Suharto dulu. Bukannya menuntaskan korupsi, tapi justru menyebarkan karuptor2 baru.

    Menurut saya, semua harus dimulai dari bagaimana kita melahirkan generasi yang akhlaknya lebih baik dari kita. Bagaimana memfilter apa yang layak dinikmati oleh anak-anak kita.

    Andai saja para mahasiswa lebih peduli pada upaya penjagaan moral generasi muda, insya Allah kelak Indonesia akan bisa dipimpin oleh pemimpin yang bermoral yang dipilih oleh orang2 yang bermoral dan didukung oleh orang2 yang bermoral.

    Tapi semua kembali pada misi sesungguhnya dari semua aksi. Benarkah ingin menjadikan negeri ini lebih baik. Atau hanya agar pemimpinnya dari golongan mereka? Wallahu A’lam

  2. Dari komentarnya saya tangkap kesan Anda juga termasuk bagian yang “tidak siap” menjadi bagian dari kudeta.

    Memang saat berisko tinggi jika kita harus mengorbankan republik ini dengan hanya bersandar pada euforia reformasi.

    Makasih

  3. TNI saat ini lebih senang dan nyaman jadi pendiam….hehehe.

  4. Diam itu emas pak singal he he
    Apa kabar pak? Semoga sehat selalu. Amin 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: