qflee

Hukum, Demokrasi dan Suksesi Nasional

In demokrasi on 25 September 2010 at 2:28 pm

Akhirnya sepak terjang Hendarman Supandji harus berakhir pasca putusan Mahkamah Konstitusi, atas gugatan judicial review Yusril Ihza Mahendra. Kejadian “luar biasa” dalam hukum tata negara kita, tetapi sekali lagi keputusan sudah final, kedudukan Hendarman Supandji sebagai Jaksa Agung illegal.

Episode berikutnya berjalan tanpa kejutan berarti. Presiden SBY langsung mengeluarkan Keppres pemberhentian Hendarman sebagai Jaksa Agung. Dimana keputusan ini pun diamini langsung oleh yang bersangkutan.

Tidak menarik bagi media massa, kenapa? Upaya perlawanan yang dinantikan menjadi sia-sia. Baik dari pihak Hendarman maupun Yusril. Artinya, kasus selesai? Tunggu dulu! Masih ada harapan untuk melihat kejutan baru. Lanjutan kasus korupsi Sisminbakum masih menyimpan sejuta misteri dan menunggu korban-korban baru.

Kalau saja Jaksa Agung baru memperlihatkan gebrakan baru pula, media tentu kegirangan. Bakal ada episode “pertempuran” baru antara para ahli-ahli hukum kenamaan tanah air. Pakar hukum akan turun gunung menengahi perseteruan ini.

Satu hal pokok, sosok Yusril sebagai pakar hukum tata negara juga sebagai politikus ulung. Momentun ini bisa saja menjadi wild card menuju kursi RI 1. Dengan muka ganteng, kayaknya tidak sulit bagi Yusril menjadi magnet guna menyedot simpati rakyat Indonesia.

Lalu bagaimana dengan karir Hendarman? Bukankah selama menjabat sebagai Jaksa Agung banyak koruptor yang ketar-ketir dibuatnya. Apakah dengan modal banyaknya koruptor yang dijerat bisa melenggangkan jalannya menuju kursi panas RI 1?

Atau nasibnya mungkin sama dengan mantan Menteri Keuangan, Sri Mulyani. Dengan modal reformasi perpajakan justru “diusir” dari negerinya sendiri.

Jalan menuju suksesi nasional masih panjang, tapi bukankah dengan persiapan yang lebih panjang bisa menciptakan banyak peluang pula. Makanya, tak salah jika para kandidat sudah start lebih awal.

Bagi SBY, isu perpanjangan masa jabatan presiden tidak mendapat respon positif. Artinya, rencana awal tetap jalan. Putra mahkota tetap harus dipersiapkan. Alasan umur serta pengalaman sepertinya harus dikesampingkan demi kelanjutan kekuasaan. Seleksinya tidak sesulit mencari pengganti Kapolri, syaratnya cuma satu, mempunyai karakter yang mirip dengan sang boss.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: