qflee

Momok Politik Diantara Pragmatisme dan Apatisme

In catatan pendek on 1 April 2010 at 12:32 am

Berpolitik dengan santun dan beretika menjadi sangat langka di negeri ini. Yang paling menonjol adalah saling gontok-gontokan, menelikung satu sama lainnya. Kehidupan politik seperti ini menjadi momok dan entah sampai kapan berakhir.

Wajah politisi tak ubahnya muka seram yang menyeringai dan senantiasa siap menerkam mangsanya. Berbeda paham politik dianggap sebagai musuh yang harus dihancurkan.

Masyarakat yang sebelumya alergi dengan perpolitikan sekarang berubah menjadi euforia. Hal ini makin diperparah dengan sikap pragmatisme dan apatis masyarakat dengan keadaan lingkungan sekitarnya. Dalam bahasa gaulnya, mending mentahnya saja, begitu kira-kira.

Apa yang bisa kita harapkan dengan kondisi politik seperti ini? Pemimpin serta orang yang dipimpin acuh tak acuh. Kondisinya ibarat di tengah hutan belantara, dimana yang kuatlah paling berkuasa. Sedangkan yang lemah menjadi santapan atau kalau tidak tiarap sembunyi.

Kembali ke masalah gontok-gontokan, ini semua tidak lepas dari ketidaksiapan kita menyikapi makna sesungguhnya dari kebebasan itu.

Bebas diartikan semaunya, enak sendiri tidak peduli orang lain. Lebih keras menuntut hak tapi menganggap sepele kewajibannya. Toleransi dan gotong royong menjadi sangat mahal harganya.

Coba tengok kehidupan desa, gotong royong antar warga mulai memudar. Semuanya dihargai dengan uang dan materi. Tokoh-tokoh masyarakat (tomas) tak mampu berbuat banyak.

Kalau begini kepada siapa lagi kita mengadu? Saya pilih mengadu di Rumah Sehat Kompasiana saja. Bagaimana dengan Anda?

Qflee
http://www.kompasiana.com/qflee

Iklan
  1. apa mau kita katakan lagi, hanya berharap semoga mereka melakukan hal yang penting dan berguna bagi rakyat negeri ini.

  2. Iya pak, apa hendak mau dikata. Terkadang saya gak habis pikir melihat kondisi bangsa skg. Yang paling betul memang cuma bisa berharap semuanya bisa bermanfaat bagi masyarakat. Trims

  3. selama belum terjadi keseimbangan kekuasaan di antara parpol2 yang ada, gontok2an antar politikus dan parpol akan selalu ada. Yang penting jangan melibatkan rakyat dalam kekusutan pertikaian mereka

  4. Tapi kapan keseimbangan itu terwujud? Salam

  5. proses menuju pendewasaan politik 😀

  6. Saya kutip ucapan Bung Karno, “jangan dulu bicara demokrasi kalau rakyat masih lapar.”
    Beginilah kondisi Indonesia sekarang. Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: