qflee

Demo Kaum (Katanya) Intelek

In demokrasi on 4 Februari 2010 at 1:21 pm

Ada-ada saja ulah para demonstran sekarang. Perilaku yang justru tidak membuat masyarakat simpati. Dan yang terpenting, tidak mencerminkan sifat dan adat bangsa kita.

Tindak tanduk seperti itu, dipertontonkan para demonstran yang katanya kaum intelektual, membakar dan merusak fasilitas umum. Dan akhir-akhir ini kelihatan semakin tak terkendali, menyerang pribadi dan kehormatan individu dan keluarga orang-orang tertentu.

Kalau tabiat seperti itu menjalar hingga menjadi contoh bagi anak-anak, hingga sampai di pelosok-pelosok, apa jadinya negeri ini? Apa memang sudah demikian parahnya pendidikan budi pekerti kita?

Ajakan presiden untuk bersama-sama duduk membahas fenomena yang sedang terjadi sekarang patut kita apresiasi. Memang sudah selayaknya kita memberi batas-batas yang jelas arti sesungguhnya dari demokrasi. Kebebasan menyampaikan aspirasi sah-sah saja sepanjang tetap melalui koridor yang telah kita sepakati.

Sangat disayangkan jika demokrasi dipakai untuk mencabut akar identitas kita sebagai bangsa. Sebagai generasi pelanjut, tugas dan tanggung jawab ada di pundak masing-masing. Memberi contoh budi pekerti yang baik. Marilah belajar pada hal-hal yang disekitar kita dulu. Menghormati orang tua kita, kakak, guru atau dosen kita. Kalau ada yang ingin disampaikan biasakan dan diusahakan dengan cara-cara yang santun. Kalau toh belum didengar kita tetap harus bersabar dan tetap berusaha untuk mengingatkan.

Saya sendiri kaget ketika pada suatu pertemuan salah satu pembicara mengatakan, kenapa harus takut sama si A atau si B, sekarang sudah era reformasi, Presiden saja dilecehkan tidak ada yang takut. Waduh, kepala saya langsung pusing, ternyata dampak demo-demoan tersebut sudah masuk ke daerah kami.

Saya tidak habis pikir, kok bisa anak-anak yang kalau di kampung terkenal alim dan sopan, tiba-tiba bisa berubah beringas dan anarkis kalau sudah di kota besar. Perangainya berubah total. Dulunya hormat sama orang tua, sekarang merokok sambil angkat kaki di depannya. Kalau dulu bicaranya sopan, giliran sekaran ngomong kasar dan membentak-bentak. Didikan macam apa ini? Harapan kalau sekolah sudah tinggi, ternyata kelakuan seperti orang tak berpendidikan. Sangat jauh dari harapan orang tua…

Iklan
  1. kadang saya juga berpikir, apa memang masih pantas mereka menyandang status “MAHAsiswa”, yang kadang kelakuannya masih seperti anak SD, mengedepankan otot daripada otak…

    bukankah sejarah membuktikan bahwa ditangan pemudalah nasib bangsa bisa berubah, merekalah agent of change, perubahan melewati perjuangan pemikiran, tanpa anarki dan provokasi

    paling tidak, tunjukkanlah sesuatu yang bisa membuat orang tua bangga…jujur saya juga sedih karena pernah merasakan perjuangan menjadi mahasiswa, karena tidak semua orang berkesempatan menjai mahasiswa, maka ketika kesempatan itu menghampiri kita, jangan pernah sia-siakan, disanalah kita berusaha menjadi pribadi tangguh yang siap untuk menjadi agen peubah, bukan sebaliknya…

    Ayo…dukung perubahan yang lebih baik…TANPA ANARKI DAN PROVOKASI !!!

  2. setuju, saya yang pernah menjadi mahasiswa juga malu dengan ulah mereka… mereka itu seperti preman yang kebetulan bersekolah saja…

  3. ehm… apalagi kalo yang demo tu ‘anak kiri” kekeke

  4. Apa tuh anak kiri mas? He he

  5. saya menjadi mahasiswa 5 tahun gak pernah yg namanya demo meski univ saya sering demo tapi q gak penah ngikud

    berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya makasih 😀

  6. Mungkin demo sekarang bukan lagi mereka anggap sebagai alat perjuangan, tapi hanya sekedar MODE untuk aktualisasi diri, namun melalui cara2 yang tidak simpatik. Seperti orang yang ikut mabok agar dianggap wah!

  7. demo = berarti harus berdemo?
    krasi = ???
    hehe, ntah lah, saya juga gak begitu paham sama hal-hal berbau pemerintahan, maksudnya secara nyata, kalau secara teori sih sudah di ajarkan di sekolah dan kuliah, nyatanya? masih menunggu. hehe

  8. setiap orang ingin mengubah dunia, tetapi tidak bisa mengubah dirinya sendiri….

  9. Saya sependapat sekali dengan sampeyan, Mas. Bahkan hampir saja saya mau menulis seputar fenomena ini, untungnya sudah sampeyan dahului. Terus terang saya prihatin jika ada orang yang berpendapat bahwa demo-demo yang marak terjadi adalah bagian dari pendidikan politik. Tentu orang yang mengatakan bahwa ini bagian dari pendidikan tersebut adalah orang yang diuntungkan dengan maraknya demo ini. Coba kita perhatikan dengan seksama, di mana ada demo di sana pasti terdapat kata-kata yang sangat tidak layak terartikulasi. Inikah yang dimaksud dengan pendidikan tersebut? Gile bener!!!

  10. perlu ada aturan yang dalam bentuk undang-undang. Agar kepolisian bisa memproses demonstran yang urakan tak punya aturan itu

  11. Khawatirnya demo2 itu malah jadi antiklimaks perjuangan mahasiswa

  12. Ikut prihatin sama yang suka brutal, seolah tercabut dari akarnya.

  13. merusak memang lebih mudah dari pada memperbaiki apalagi menjaganya…
    penyaluran aspirasi yg lebih sopan tentu lebih banyak yang simpati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: