Ide “gila” dari seorang anggota DPR terhormat membuat banyak kalangan resah, terutama para siswi yang diharuskan mengikuti tes keperawanan agar bisa diterima di sekolah bersangkutan. Tak sedikit yang mempertanyakan latar belakang munculnya gagasan ini, apa relevansinya antara perawan atau tidak dalam menentukan anak ini layak meneruskan jenjang pendidikannya?
Merampas hak seseorang dengan dalih kesucian dan moralitas sebenarnya bukan hal yang baru di negeri ini. Waktu kasus video mesum Aril-Luna merebak, tak sedikit dari mereka yang mengaku-ngaku pejuang moralitas berteriak lantang. Mereka merasa mendapatkan alasan pembenar untuk “menghukum” para pelaku serta menggeneralisasikan setiap kasus asusila. Bahkan hebatnya, video tersebut dituding sebagai penyebab meningkatnya kasus pemerkosaan.
Dengan bertindak demikian, sepertinya semua persoalan sudah terselesaikan. Tidak perlu lagi susah payah mengexplore beratnya himpitan ekonomi sosial para “pendosa” tersebut. Semua kesalahan langsung ditimpakan kepada kedua sejoli yang kebetulan mengabadikan hubungan mesum mereka. Gampang kan?
Kompleksitas masalah membutuhkan analisa yang mendalam pula. Bukan hanya saling menimpakan kesalahan lantas semua persoalan selesai. Apalagi jika menyangkut wilayah privat seseorang. Jika semua siswi yang hendak melanjutkan studi bukan perawan lagi, apakah kita dengan serta merta menuding mereka semua bejat dan nista?
Dalam kasus ini, pihak perempuanlah yang selalu menjadi korban. Mereka diperhadapkan pada situasi serba menuntut. Jika salah satu faktor tidak terpenuhi maka mereka dicap abnormal dan tidak layak diterima lagi dalam kehidupan sosial.
Tak heran jika sekarang kita melihat kuatnya hasrat publik menentang ide tersebut. Hak warga untuk melindungi wilayah privacy mereka dan itu dijamin oleh undang-undang. Terlepas dari latar belakang munculnya ide tersebut.
Pengusung moralitas yang sok suci hendaknya berkaca diri dulu. Masih banyak persoalan bangsa yang harus segera diselesaikan dan bukan terpaku pada urusan perawan atau perjaka tulen.


syaratnya:
- Pemeriksaan dilakukan secara tertutup, dan hasil tidak di sebar luaskan
ke umum.
- Tujuan pemeriksaan adalah hanya agar orang tua si siswi mengetahui
bahwa anaknya masih atau sudah tidak perawan. selanjutnya
untuk tindakan, di serahkan sepenuhnya keorang tua yang
bersangkutan.
- Untuk orang tua yang tidak setuju anaknya diperiksa harus membuat
surat pernyataan diatas materai. dan si anak tidak akan diperiksa.
- Bila si orang tua sudah mengetahui sebelumnya bila si anak sudah tidak
perawan dikarenakan pemerkosaan atau kecelakaan. maka si orang tua
harus memberikan keterangan dan dilakukan secara tertutup. untuk
menjaga kehormatan si anak.
Syarat seperti itu rasanya cukup untuk membuat siswi2 sekolah untuk tetap menjaga keperawanannya. untuk cowok ga usah di periksa, kalo banyak perawan pasti banyak perjaka. kecuali si cowok suka jajan, untuk anak sekolah buat jajan rasanya susah.
Orang tua yang bijak pasti akan setuju. karena si orang tua pasti akan sungkan bila menanyakan langsung pada anaknya “Nak, kamu masih perawan atau tidak?”
kalau dijawab pun, pasti jawabannya “masih” walau harus berbohong.
sedang kan untuk memeriksa keperawanan anaknya sendiri tak mungkin.
anak sekarang rasanya menyepelekan sekali keperawanan.
Makasih penjelasannya, mudah2an semua orang tua bisa maklum apa adanya. Meskipun masih banyak keraguan akan niat “suci” ini.
yang buat tulisan diatas juga bego’ kaya kagak ada kerjaan ja..klo emang gaya hidupnya normal baek2 dan bener2 gak pernah zina ngapain takut. kalo anak itu nakal, dia ja gak peduli perawannya ilang ngapain kita peduli. trus ada aturan baru masuk sma, klo dia gak bisa masuk sekolah impiannya, ya salahnya sendiri. opo angele….
Komentar kayak gini yg selalu merasa diri sok pintar dan sok moralitas, menggampangkan semua persoalan karena selalu melihat dari kacamatan “kuda”
ngapain pake acara tes keperawanan.. BAGI JURI yang nge’tes keperawanan nx: GILA, ASU, BANGKE, BABI, bangsaaattttttttttttt….
Idenya gak bakalan laku deh
makasih dah mampir.
????????????????????????????????
apa ini ad masukan tentang melanggar undang-undang????
atau mengenai pasal mau pun HAM?????
SAMA KAYA MUKA KAMU NGGA LAKU :pp
??????????????
pemerintah sok suci..masa hanya karena ingin masuk sekolah aj pke tes keperawanan…apakah itu suatu hal yang logis dan patut di lakukan????apkah ada aturan yang tertulis dalam undang2…klw mw menegakan peraturan yang sperti itu tolong dong d pertimbangkan lg…apakah itu sudah sesuai dengan etika yang ada??????bagi para orang tua tlong hargai jg para anak2 anda..mrka mnusia bkan benda….
Begitulah, padahal masih banyak persoalan yang lebih penting harus diselesaikan oleh pemerintah tapi nampaknya mereka lebih fokus pada hal yang malah menimbulkan persoalan baru.
Makasih dah mampir dan memberikan komentar. Salam
mantap
Salam kenal
Never seen an article like this before..
anw.. maybe benar tes keperawanan ini penting, tapi ini sungguh tidak membuat nyaman untuk para siswi. kalo pun ada yang mau kritik
lebih baik sebelum kritik tanya saja sama siswi di se INDO apakah merasa nyaman dengan tes ini, sesungguhnya setiap manusia memiliki sisi yang bisa di lihat dan sisi yang tidak ingin di lihat mata publik secara fisik, maupun hal yang lainnya.
sungguh bagus artikel ini, toh yang penting iqnya
apakah seorang yang tidak perawan tidak bisa bersaing dgn yang perawan.. ?? kalau di indonesia ada 1000 org berpikiran seperti ini, maka akan terjadi diskriminasi terhadap sebagian kaum wanita, terus bagaimana dgn nasip wanita/cewe yang mungkin saja perawannya hilang krna perkosaan..? ckckck…
Peace brader/sista
Lets rebuild INDONESIA for the brighter FUTURE
hentikan berpikiran kritis, yang tidak ada hasilnya
mending.. santai, anda akan tau bahwa dgn SANTAI
anda bisa lebih mudah menerima masukkan..
Never seen a comentator like this before
Salam kenal kembali, semangat INDONESIA!
apakah ini benar adanya????? kalo emang benar dimana saja sekolah-sekolah yang menggunakan system kayak gn????? tolong penjelasannya ini termasuk pelanggaran HAM pasal berapa
weeeessss hhhheeeeeeeeehh
menurut saya penting
tes keperawanan bisa dijadikan salah satu acuan dan pengikat bagi generasi bangsa untuk selalu memegang teguh norma asusila. Menghindari free sex, menekan jumlah menikah usia dini dan lainnya