Arsip untuk 2009
presiden, Sby, tim 8, wapres
In catatan pendek on 22 November 2009 at 8:41 am
Bagaimana sikap presiden terhadap rekomendasi tim 8 akan terjawab besok (23/11). Banyak pihak berharap apapun sikap presiden nantinya mampu “mendinginkan” suasana atas kisruh antara KPK-Polri-Kejaksaan.
Selama ini kita mengenal gaya kepemimpinan SBY yang ragu dan lamban dalam mengambil sikap. Pada waktu JK (Jusuf Kalla) mendampingi beliau, hal ini bisa ditutupi dengan gayanya yang serba cepat dan tidak terlalu birokratis. Dalam berbagai persoalan negara tak jarang kita lihat dominasi Pak JK dalam mengambil sebuah keputusan.
Wapres Boediono tidak memiliki karakter seperti itu. Bahkan dalam berbagai kesempatan beliau terus terang mengakuinya bahwa tak mungkin mengikuti gaya dan karakter JK.
Terkait kisruh ketiga lembaga penegak hukum tersebut. Presiden tidak mempunyai “orang” lagi yang bisa mengimbangi dinamisasi persoalan yang muncul. Media pun harus gigit jari. Tidak ada lagi kejutan-kejutan yang bakal muncul. Posisi seperti ini tentu sangat tidak nyaman bagi SBY. Selama periode pertama pemerintahannya praktis beliau tidak pernah menemui “lawan tanding” karena sebelumnya sudah “KO” duluan.
Apa boleh buat urusan rumah tangga yang selama ini dibebankan pada pembantu terpaksa dikerjakan sendiri. Maklum pembantunya pulang kampung. Jadi kita lihat saja bagaimana tuan rumah sendiri yang turun langsung membersihkan dapur dan cuci piring.
hukum, opini, politik, rekayasa
In catatan pendek on 11 November 2009 at 6:58 am
Entah kebohongan apa lagi yang bakal muncul dalam kasus pembunuhan Nasaruddin Zulkarnaen. Dalam persidangan yang menghadirkan Williardi Wizard sebagai saksi, terungkap bahwa ada unsur rekayasa dan tekanan pada proses BAP. Kesan yang timbul adalah adanya upayanya rekayasa atas penahanan Antazari Azhar.
Geger dunia hukum kita kembali terjadi. Reaksi beragam pun bermunculan. Opini negatif publik pun langsung mengarah pada institusi kepolisian dan kejaksaan. Entah dosa apa yang telah diperbuat oleh dua institusi hukum tersebut. Yang pasti persepsi publik yang tercover oleh media atas dua lembaga penegak hukum tersebut sudah tidak ada lagi bagusnya.
Prestasi kepolisian membongkar jaringan terorisme seperti tak ada lagi artinya jika dibandingkan dengan reaksi facebookers. Kecaman dan hujatan menjadi menu wajib kepolisian akhir-akhir ini.
Kita tentunya tidak boleh membiarkan hal seperti ini terjadi. Karena ini adalah murni masalah hukum tentu sangat tidak baik jika selalu dikait-kaitkan dengan adanya upaya rekayasa politik. Upaya menggiring kasus ini seolah-olah ada aktor besar dibelakang semua ini malah bisa mengaburkan persoalan sesungguhnya. Apalagi dengan menggiring opini publik untuk menyudutkan salah satu pihak.
Biarkan proses hukum berjalan dengan wajar. Dan apapun yang telah menjadi putusan tentunya sebagai warga yang taat hukum kita semua wajib menghormatinya
bupati, demokrasi, indonesia, pilkada
In demokrasi on 10 November 2009 at 12:34 am
Tahun 2010 sekitar 300 lebih kabupaten kota akan melaksanakan pilkada. Dewasa ini mekanisme pergantian pimpinan lokal tersebut menjadi sorotan berbagai pihak baik dari segi efektifitas maupun efisiensi anggarannya. Manisnya buah reformasi yang telah kita nikmati ini perlahan menunjukkan rasa aslinya. Hiruk pikuknya terkadang membuat kita bertanya-tanya. Apakah cita rasa ini telah sesuai dengan selera bangsa Indonesia ?
Lihat saja outputnya. Pemimpin yang tunduk pada partainya. Sibuk urus kepentingan kelompok semata. Memeras rakyat dengan aturan yang mencekik leher. Tidak mempunyai kepekaan sosial. Mabok kekuasaan, maunya dipuja dan disanjung.
Kehidupan demokrasi yang tumbuh subur, tak ada pengekangan terhadap aspirasi politik. Coba bandingkan dengan zaman Orba. Dimana semua saluran politik bermuara pada satu pintu. Era kebebasan ini telah mengubah sikap dan perilaku kita. Terkadang euforia berujung pada pemaksaan kehendak dan anarkis.
Mengharapkan ajang pilkada bisa melahirkan sosok pemimpin berkualitas, ideal dan dekat dengan rakyat yang dipimpinnya masih sebatas tataran ide. Mencuatnya kasus politik uang, jual beli suara serta sengketa pilkada yang berlarut-larut telah membuka mata kita betapa sistim demokrasi yang selama ini dibangun masih sangat rapuh.
Gambaran umum beberapa daerah yang telah melakukan pilkada justru menyisakan pekerjaan yang tidak kalah ruwetnya. Perpecahan kelompok masyarakat, rusaknya hubungan antar rumpun dan benturan negatif sesama pendukung atau kelompok. Situasi ini mengendap tanpa ada solusi sehingga sangat rawan terjadi kekacauan sosial politik. Dalam kondisi seperti ini, sebagus apapun program kerja, secanggih apapun visi misi tidak akan bisa berjalan normal.
Wacana pengembalian kewenangan kepemimpinan daerah melalui mekanisme penunjukan langsung dari pusat patut kita dukung. Dengan harapan tentunya hal ini mampu meredam gesekan-gesekan dalam masyarakat yang sewaktu-waktu bisa meledak dan berakibat pada instabilitas nasional. Gerakan separatis, anti NKRI yang marak belakangan ini harus diredam secepatnya.
Dan yang terpenting adalah bagaimana sistem yang kita bangun ini bisa melahirkan pemimpin yang mampu membawa rakyatnya menjadi sejahtera. Membangun daerah menjadi lebih maju dan aman. Serta hasil cipta karya monumental yang bisa diwariskan dari generasi ke generasi tentunya.
aparat, artikel, hukum, KPK
In korupsi on 5 November 2009 at 12:35 pm
Potret hukum kita tercoreng dengan tingkah laku aparat penegak hukum yang memalukan. Terbayang kira-kira mau jadi apa bangsa ini dengan mental aparat yang bobrok. Mempermainkan hukum sepertinya sudah menjadi hal lumrah. Hukum hanya berpihak pada kalangan berpunya (the haves).
Dari rekaman hasil sadapan KPK terungkap mafia hukum sudah demikian mengakar. Ibarat penyakit kanker tak mempan lagi jika hanya melalui obat resep. Jalan satu-satunya adalah melalui “amputasi” sebelum menjalar kemana-mana.
Ketua MK Mahfud, MD dalam wawancara TV One, tidak mempersoalkan upaya Anggodo Wijaya cs melobi kiri kanan atas kasusnya. Yang jadi persoalan menurutnya terletak pada mental korup para penegak hukum sehingga demikian mudahnya “dibeli” oleh para makelar kasus.
Inilah yang harus dibersihkan hingga ke akar-akarnya. Presiden SBY seharusnya bertindak tegas dengan mengganti para pucuk pimpinan yang tidak becus mengawal jalannya refomasi penegakan hukum.
Reformasi birokrasi khususnya dilembaga kepolisian dan kejaksaan adalah agenda penting dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Itu jika kita ingin melihat supremasi hukum ditegakkan. Citra pemerintahan SBY-Boediono dalam penegakan hukum belum menggembirakan. Bahkan kalau mau jujur, hampir semua departemen mempunyai penyakit yang sama, korupsi. Bukan hanya dipusat tapi menjalar sampai ketingkat provinsi dan kabupaten.
Penyebabnya karena fungsi pengawasan internal tidak berjalan maksimal. Untuk itu pengawasan external serta ditunjang peraturan perundang-undangan yang jelas sangat dibutuhkan. Dengan sendirinya menciptakan sebuah pemerintahan yang betul-betul bebas dari korupsi dan berpihak pada rakyat.
Saat ini lembaga pengawas aparatur negara (Komnas Waspan) yang diberikan wewenang dalam menjalankan fungsi pengawasan dan tetap berkoordinasi dengan lembaga atau komisi lainnya misalkan KPK, Komnas HAM, KPA dan lain-lain. Masyarakat berharap dengan keberadaan komisi ini bisa mengerem prilaku korup dalam diri aparatur negara.

In catatan pendek on 3 November 2009 at 6:55 am
Gelombang tekanan berbagai elemen masyarakat dalam menyikapi kisruh antara KPK-POLRI memberi dampak yang tak terduga sebelumya. Dukungan besar dari publik yang dituangkan dalam berbagai aksi di media membawa kita pada paradigma baru dalam memandang peran media massa di era kekinian.
Di era pemerintahan otoriter sekalipun tak luput dari gempuran aksi-aksi moral publik melalui beragam media yang mudah diakses kapan dan dimanapun. Efek bola salju tak terhindarkan yang pada gilirannya mampu mengubah pandangan umum masyarakat atas sebuah isu yang diangkat.
Dalam benak timbul pertanyaan, betulkah dengan sebuah rekayasa media massa mampu menjadi saluran efektif bagi tercapainya sebuah tujuan. Akankah ini menjadi trendi bagi para penggiat LSM maupun organisasi kemasyarakatan lainnya dalam memperjuangkan cita-citanya?
Mengambil hikmah dari kasus diatas, gerakan para facebookers istilah lain dari jaringan pertemanan online melalui gerakan sejuta dukungan untuk Bibit-Chandra pimpinan KPK non aktif terbukti sukses mengumpulkan ratusan ribu lebih fans hanya dalam waktu singkat.
Disisi lain sebenarnya masih ada isu yang mempunyai dampak hukum dan ekonomi begitu besar bagi masyarakat tapi nyatanya tidak dilirik oleh media massa.
Advokat terkenal O. C. Kaligis dalam wawancara eksklusif dengan Metro TV mengaku sangat heran dengan menderu-derunya pemberitaan tentang Bibit-Chandra. Beliau sendiri mempertanyakan ada apa dibalik getolnya media memblowup kasus ini sedang dipihak tersangka sendiri diam seribu bahasa.
Disinilah peran para aktor intelektual dibutuhkan dalam menyikapi sebuah isu. Memainkan sebuah keywords yang dapat menjadi magnet bagi media sekaligus menggunakannya untuk membentuk opini yang pada akhirnya mampu mengubah keputusan sesuai dengan tujuan yang dikehendakinya.
KPK, Media, opini, POLRI
In catatan pendek on 30 Oktober 2009 at 1:10 pm
Mencuatnya isu kriminalisasi lembaga KPK melalui berbagai media menunjukkan betapa peran media sangat vital.
Penggalangan opini atau lebih tepat kalau dikatakan menggiring pemahaman publik untuk menyudutkan pihak-pihak tertentu dan sebaliknya memposisikan pihak lainnya sebagai “hero”
Kasus dua lembaga tinggi negara ini menjadi menarik untuk dicermati. Peran keduanya menjadi sangat menentukan masa depan bangsa ini. Masyarakat pun tentunya berhak tahu ada apa sebenarnya yang terjadi.
Argumen masing-masing pihak sudah benar adanya. Namun sebagai negara hukum tentunya semua harus dikembalikan pada aturan-aturan. Mari kita lihat episode selanjutnya. Dan apapun hasilnya tentunya semua pihak harus menghormatinya.
culture, dance, indonesia, malaysia, Pendet, traditional
In catatan pendek on 31 Agustus 2009 at 6:00 am
The unilateral claim the Malaysian government on traditional art of the Pendet Dance as well as various original styles of the Indonesian culture prove how the “competition” between the two countries not only in the strength of the military.
The wave the protest then springs up. All of them regret the Malaysian government attitude that does not appreciate original Indonesian culture. Although in the long run the Malaysian government gives clarification on this incident. Apparently the heart of the Indonesian people has been already done the wound.
In fact already many cases that involve the two countries. However so far hue strength of diplomacy evidently still an very effective. This is definitely not free from the history of the two countries. But really is worried if the condition like this happens repeatedly. At least we gave the opportunity for the third party to take the profit. Do not close the possibility of these tactics of being to weaken to one another the strength of ASEAN countries so as in the long run facilities on the control of politics and economics respectively the countries.
The Malaysian government preferably immediately stops carrying out provocative actions on Indonesia. As efforts to maintain the regional condition situation stay conducive. If not, the war that was not all beneficial happen for the two countries.
densus88, Noordin M Top, terrorist
In Tak Berkategori on 8 Agustus 2009 at 2:56 pm
The gripping drama around the leader’s attack of the terrorist Noordin M Top ended already. Beforehand the tense atmosphere visible was seen in the faces of the special detachment member anti terrorism (Densus 88) so also the viewers the TV of all the homeland were covered by the very anxious feeling.
Praise The Lord, all of them have ended. This terrorist succeeded in being paralysed. Now that became the big question was. True Noordin M Top was killed?
We did not to be prejudiced bad. It was clear that apparatus was successful proved to all of us with his success in tracing as well as exposing the network of the terrorist in Indonesia.
This ought to be given by us the appreciation for the police rank. But all that certainly was not meaning that without help from community. Only with the active involvement of the community in monitoring all the movements arousing suspicion in and around their environment then the network of the terrorist was difficult to develop.
So the community and security apparatus always co-operated in order to maintains the order and our security together. Without that was impossible for the police expressed the criminal curtain in the community.
Mbah surip, music, phenomenal, smile
In civil society on 6 Agustus 2009 at 1:10 am
Once again, Whats behind with Mbah Surip smile? This is a big question. Everytime when I see the phenomenal musician show. He was born in Mojokerto, some places about from East Java Province.
He comes with Bob Marley style and tag I Love You Full instead of I love you so much.
I am feeling something bitterness with laugh and song lyrics. I think the question is still mysterious for audiences because him is death. Innalillahi Wainnal Ilaihi Rajiun/rest in peace
Only a few months He makes everyones excited. The fans is very enjoy with the songs. The hits “Tak Gendong” become familiar song and easy listening for peoples or only a song from street musician, I dont care!
He is a genuine musician and everytime show still low profile. He is a great man and totally life for a music. Unbelievable, He is life very short. Although the lyrics easy listening but fully critical social condition and have a taste freedom to be expresion.
Good bye Mbah Surip, may I hope every your songs can be a solution for this country problems. He is success, (thats fact) to be artist. We are still remember and LOVE YOU FULL!
Bomb, hotel, marriot, terrorist
In Tak Berkategori on 24 Juli 2009 at 6:41 am
Bomb attack at Ritz and Marriot hotel is icon American actually enough be reason for knowing background, unlike symbol of America and many products from west.
They hope the sound effect in around the world. Also signal for government about excist organization Jamaah Islamiyah (JI). This is a fundamental moving is terrorist. They are not care about direct impact.
Everything explosion bomb, economic sector feel it and downs. Many investors canceled deal and bring the money going out from Indonesia. Local investors down and panic. Economic situation instablish impact to everything sector direct of many peoples.
Absolutely, We do not afraid. Dont look over about this, because situation panic make them happy and goal target. But we must are still beware and always report stranger activity in my city.
Suicide bomb is very difficult to detection. This is a big problem. The Police hard working and together with civilian watching and closing places for growing fundamentalism organization. This is a solution for minimalizer attack terrorist again.
Golkar, Jk, mallarangeng, pilpres, Sby, sulsel
In demokrasi on 12 Juli 2009 at 10:29 pm
Ada berbagai macam real story dibalik kekalahan Jusuf Kalla. Perasaan sedih, heran dan bangga terdengar dari berbagai sudut-sudut kota. Tulisan ini bukan bermaksud mengungkit atau mencari-cari kesalahan tetapi semata ungkapan perasaan melihat dinamika politik yang terjadi pasca pilpres khususnya di Sulsel.
Pada umumnya mereka tidak menyangka jagoan mereka bisa kalah secepat itu. Kalau dilihat hasil quick count lokal, pasangan nusantara ini memang masih unggul sekitar 60 an persen. Hal inilah sedikit membuat elite partai golkar bangga. Setidaknya mereka masih bisa membuktikan bahwa mesin partai tetap jalan. Tapi kalau dilihat perolehan suara SBY, perasaan heran pun muncul. Bahkan dibeberapa TPS pasangan ini kok bisa unggul? Dari beberapa hasil tanya jawab singkat saya, Why your vote SBY? Jawabnya dapat diklasifikasi sbb:
1. Sebagai balas budi karena telah diangkat jadi PNS.
2. Karena bersyukur ada BLT.
3. Bersyukur dapat RASKIN.
4. Harga BBM turun.
5. Karena SBY gagah dan berwibawa.
PRAGMATIS!
Sebaliknya ungkapan rasa kecewa justru lebih banyak mengarah ke Mallarangeng brothers. Barangkali mereka harus membuat persiapan khusus agar kemarahan masyarakat bisa tereleminir.
That is politics! semua hanya permainan. Setidaknya suguhan berbagai macam antraksi politik ini telah menambah wawasan dan pengetahuan kita dalam berbangsa dan bernegara.
election, iran, Mousavi, president
In civil society on 21 Juni 2009 at 4:07 am
Kebuntuan politik pasca pemilu di Iran menarik perhatian dunia. Kemenangan Mahmoud Ahmadinejad atas lawan-lawannya justru mendapat aksi perlawanan rakyat yang dimotori Moussavi.
Rakyat Iran berduyun-duyun turun kejalan memprotes serta menuntut pembatalan hasil pemilu tersebut. Yang pada akhirnya berbuntut bentrok dengan aparat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa demokrasi di Iran telah menggeliat. Bahkan seruan pemimpin spiritual Khamenei untuk menghentikan aksi demo tidak digubris. Dan hampir dipastikan revolusi akan terjadi di negara yang pernah berperang dengan Irak itu.
Sekali lagi kemenangan demokrasi di negara-negara arab sudah didepan mata. Efek domino dari proses politik ini akan berdampak luas pada sistim pemerintahan di jazirah arab.
Kita di Indonesia patut berbangga karena proses tersebut telah kita lewati dengan pengorbanan darah dan air mata. Sekarang tugas dan tanggung jawab kita untuk menjaga demokrasi ini agar dapat tumbuh subur.
Mari kita lihat bagaimana rakyat Iran menyelesaikan persoalannya.
In Tak Berkategori on 19 Juni 2009 at 6:57 am
Jelang perundingan Indonesia – Malaysia membahas status Ambalat pada tanggal 2 Juli 2009, dimana dijelaskan oleh jubir deplu bahwa pertemuan tersebut direncanakan berlangsung di Malaysia.
Ada yang menarik dari rencana pertemuan tersebut. Kedua belah pihak sepakat untuk membicarakan semua tapal batas jadi bukan cuma soal ambalat saja.
Tetapi yang perlu dipertegas oleh Indonesia adalah, jangan lagi ada pelanggaran-pelanggaran wilayah yang dilakukan oleh kapal perang Malaysia. Ini sangat penting demi menjaga suasana tetap kondusif. Dan kita juga bisa mengukur sampai sejauh mana keseriusan pemerintah Malaysia untuk menyelesaikannya.
Jangan sampai waktu kita hanya habis dari meja perundingan satu kemeja perundingan lainnya. Taktik mengulur waktu ini yang harus kita sikapi dengan tegas. Karena memang semuanya sudah jelas. Ambalat adalah wilayah negara kesatuan republik Indonesia.
Mentang-mentang rakyat Indonesia sedang fokus pada pilpres mereka justru mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kita tidak boleh memandang remeh persoalan ini karena kita sudah kecolongan dengan lepasnya Sipadan dan Ligitan. Media juga jangan sampai lengah.
In Tak Berkategori on 15 Juni 2009 at 10:55 am
Sebenarnya selama ini siapa yang memimpin kendali pemerintahan. Satu mengaku tidak ada perdamaian di serambi mekah kalau bukan jasanya. Yang satu berkoar paling banyak membantu orang miskin dan satu juga tidak mau ketinggalan, semua itu adalah program yang tinggal diteruskan saja.
Rakyat pun bertanya-tanya. Jadi selama ini kerja mereka sebenarnya apa? Inilah wajah republik Indonesia. Lebih tepat wajah demokrasinya. Semua bisa saja mengklaim bahwa merekalah yang paling berjasa di negeri ini. Tetapi mereka tidak punya kekuatan lagi untuk memanipulasi suara rakyat.
Saling serang pun tak terhindarkan. Terkadang sudah menyinggung pribadi masing-masing. Masih wajarkah sepak terjang mereka? Biarkanlah rakyat yang menentukan. Rakyat sudah pintar, tidak bisa dibohongi lagi. Apalagi kalau diiming-iming janji manis di bibir.
Percuma saja mereka berkoar-koar. Memuji-muji diri setinggi langit. Toh pada akhirnya rakyat jualah yang menentukannya, iya khan???
In Tak Berkategori on 11 Juni 2009 at 1:34 pm
Ledakan keras tadi sore (11/6) betul-betul mengguncang kota Makassar. Masyarakat pun berduyun-duyun keluar dari rumah. Mereka semua penasaran ingin tahu apa sebenarnya yang akan terjadi.
Tidak ada satupun tanda-tanda bahwa akan terjadi ledakan demikian besar ini. Bahkan masyarakat pun berangkat kerja dan melakukan aktifitas seperti biasa.
Hanya saja menjelang sore, tanda-tanda akan terjadi sesuatu peristiwa besar sudah mulai nampak. Jalanan mulai padat, kendaraan pun merangkak pelan. Namun bagi segelintir orang, sign ini tidak terlalu diperhatikan. Mungkin karena terlalu ambisi kejar setoran. Atau untuk setor muka sama atasan
Yang mendapat hidayah justru rakyat kecil yang hidupnya memang sudah kecil dari awalnya. Mereka mampu melihat tanda-tanda tersebut sebagai sebuah titik awal yang akan mengubah bangsa ini. Orang-orang kecil ini dengan rela dan ikhlas meninggalkan aktifitas mereka walaupun harus berdesak-desakan.
Alhasil Ledakan Makassar ini akan terdengar gaungnya hingga keseluruh pelosok nusantara.
Selamat datang Pemimpin Baru JK-WIRANTO
In Tak Berkategori on 11 Juni 2009 at 3:20 am
Deklarasi kampanye damai sudah selesai sekarang mari kita lihat apa yang telah diucapkan sesuai dengan kenyataan dilapangan atau tidak. Jangan sampai siap menang dan siap kalah cuma sebatas bibir saja.
Apa yang dipertontonkan para capres dan cawapres semalam membuat hati kita lega. Setidak-tidaknya harapan akan perhelatan demokrasi lima tahunan ini bisa berjalan aman dan lancar. Mengapa tidak? Satu persatu calon menghimbau dan mengajak kita untuk tetap saling bersatu walaupun berbeda paham atau aliran. Kita bisa melihat betapa jiwa kenegarawanan semua calon tak perlu diragukan lagi.
Dari sisi media, yang terjadi justru sebaliknya. Banyak media yang menempatkan diri sebagai tukang komporin. Memanas-manaskan situasi sepertinya antara kubu yang satu dengan kubu yang lainnya siap berperang hidup atau mati. Kita tentu berharap semua media tetap pada posisi netral, tidak membela paket manapun. Tetapi tetap berpihak pada kepentingan rakyat.
Masyarakat pun hendaknya jangan mudah terpancing dengan propaganda semua media partisan. Perlu kearifan dalam mencerna semua informasi yang muncul. Intinya biarkan rakyat memilih pemimpin yang disukai dan dikehendakinya. Dan hak rakyat juga untuk mendapatkan informasi yang berimbang dan proporsional.
In Tak Berkategori on 9 Juni 2009 at 4:03 am
Vaksin meningitis mengandung lemak babi. Apalah istilahnya yang jelas obat yang diwajibkan bagi para jamaah haji sebelum berangkat itu ternyata mengandung zat yang diharamkan. Lantas bagaimana kita menyikapinya? Apakah ini bisa dikategorikan dalam keadaan darurat?
MUI sebagai lembaga yang bertanggung jawab soal haram atau tidak sudah meneliti soal vaksin ini dan memang menemukan adanya zat mengandung babi, terutama pada tahap awal pembuatannya. Walaupun pada hasil akhirnya zat itu sudah tidak ditemukan lagi. Namun MUI pun meminta kejelasan sikap dari pemerintah Arab Saudi atas kasus ini.
Masyarakat tentu sangat mengharapkan pemerintah segera mengambil sikap. Bukan malah sibuk berpolemik.
Sebagai informasi, vaksin meningitis ini adalah vaksin untuk mencegah penyakit radang selaput otak. Entah bagaimana kebijakan ini diberlakukan. Apa karena calon jamaah haji kita memang rawan terkena penyakit tersebut atau tidak. Begitu pun informasi tentang negara mana saja yang memberlakukan aturan ini. Indonesia sendiri memberlakukannya sejak tahun 2002.
Yang menjadi persoalan adalah pihak-pihak yang terkait tidak transparan dalam penggunaan vaksin ini. Bahkan dari awal sebenarnya mereka sudah tahu vaksin ini mengandung lemak bagi tapi bungkam saja.
Barangkali kita perlu belajar dari kejadian yang menimpa ibu Prita Mulyasari. Dimana telah mendapatkan perlakuan yang tidak semestinya terhadap pelayanan kesehatannya.
Lantas bagaimana sikap pemerintah maupun pihak yang bertanggung jawab jika jamaah haji yang telah divaksin tersebut menuntut atas kelalaian dan pembiaran yang telah dilakukan selama ini ???
In Tak Berkategori on 6 Juni 2009 at 12:48 pm
Adakah hasil survei LSI terkini yang menempatkan pasangan SBY-BOEDIONO mampu merubah pilihan konstituen terhadap figur pilihannya dan bagaimana dampaknya terhadap pemilih utamanya di kantong suara pasangan JK-WIN dan MEGA-PRO?
Sangat mengerikan membayangkan jika konstituen yang selama ini digarap tiba-tiba berubah pilihan hanya karena sebuah survei. Dan bagaimana dengan sikap Anda? Mencari aman dengan ikut sama yang menang survei.
Dan yang menjadi isu besar saat ini adalah, apakah ini yang dinamakan Operasi Senyap?
Yang pasti survei yang dirilis ini membuat dua kubu “meradang”. Keduanya bahkan menganggap ini salah satu bentuk black campaign. Angka 70% dianggap sangat irrasional, mengada-ada dan tidak ilmiah.
Dari beberapa skenario, satu atau dua putaran. Semuanya menarik untuk dicermati. Namun skenario dua putaran nampaknya menjadi celah untuk “mengeroyok” paket incumbent. Ini nampak dari reaksi keras atas rilis survei tersebut. Begitulah politik, segala cara dilakukan demi mencapai tujuan. Walaupun pada akhirnya teman hantam teman.
In catatan pendek on 5 Juni 2009 at 1:07 am
Tawuran mahasiswa kembali terjadi. Dunia pendidikan kembali tercoreng noda hitam. Aksi tawuran anarkis antara mahasiswa UKI dengan YAI ini seolah menjadi pembenar bahwasannya ada yang salah dalam sistim pendidikan kita. Mereka dididik bukan untuk menjadi preman tapi kenyataannya dunia kampus seperti menjadi sarang preman.
Tindakan mereka tak ubahnya preman kampung. Bertindak emosional sangat jauh dari kesan kaum intelektual. Apa sebenarnya yang mereka cari? Bentuk ekspresi diri tapi caranya norak dan tak bermoral. Inilah produk pendidikan yang salah urus. Dimana keberhasilan seorang anak didik dilihat pada ijazah semata. Padahal jenjang pendidikan bukan hanya sebatas ujian dan lulus atau tidak. Perilaku, watak, kepribadian menjadi faktor pelengkap semata.
Tindakan tegas aparat keamanan memang sangat diperlukan dalam menangani aksi anarkis mahasiswa tersebut. Selama ini kita tidak pernah mendengar oknum preman yang berlindung dibalik kampus ini dihukum seberat-beratnya. Begitu pula dengan pihak universitas, mereka tidak boleh main-main dengan kasus tersebut. Tindakan vandalisme tidak boleh dibiarkan berkembang biak di dunia kampus serta bersemayam dalam diri para generasi penerus bangsa ini.
In Tak Berkategori on 3 Juni 2009 at 7:03 am
Kasus penahanan ibu Prita Mulyasari adalah matinya demokrasi. Dalam hal ini kebebasan mengeluarkan pendapat di muka umum. Kita semua terhentak atas tindakan aparat yang telah merampas hak seorang ibu yang nota bene adalah pihak yang jadi korban. Apa karena pihak yang dihadapi adalah kelompok berduit yang tentunya mempunyai akses tanpa batas? Sekali lagi kita semua sangat prihatin dengan kasus ibu Prita.
Kalaupun keluhan yang disampaikan tersebut yang menyangkut pelayanan dari pihak rumah sakit omni, adalah wajar jika setiap orang yang berobat mempertanyakannya. Bahkan ini sangat perlu sebagai bahan introspeksi pihak rs dalam memberikan pelayanan kedepannya. Namun yang terjadi justru sebaliknya, pihak rs omni tidak menerima baik laporan tersebut dan balik melaporkan yang bersangkutan ke pihak berwajib.
Seyogyanya kasus ini menjadi domain undang-undang perlindungan konsumen bukan malah masuk dalam ranah pencemaran nama baik. Demikian komentar Kanda Zohra aktivis perlindungan konsumen (YLKI) melalui FB. Bahkan beliau mengaku sangat sedih atas kasus ini.
Sebagai wujud dukungan terhadap kasus yang menimpa ibu Prita Mulyasari, mari kita sama-sama mendesak pihak yang berwajib untuk segera membebaskan beliau agar dapat berkumpul kembali dengan keluarganya.
In Tak Berkategori on 3 Juni 2009 at 1:14 am
Undang-undang Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) memberi perlindungan bagi suami/istri dan anak yang mendapatkan perlakuan yang tidak pantas dalam kehidupan berumah tangga mereka. Tak ayal, sejak berlakunya peraturan ini marak sudah kasus-kasus rumah tangga yang selama ini sangat tabu. Dari yang kelas pejabat, seleb hingga rakyat jelata.
Terkadang kita dibuat tertegun dengan peristiwa yang menimpa mereka. Kok masih ada orang yang tega-teganya berbuat demikian terhadap pasangan atau buah hatinya. Apakah ini disebut penyakit masyarakat modern? Dimana pelakunya justru berasal dari kelas menengah dan berpendidikan.
Kalau boleh dikata yang paling banyak diuntungkan dengan peraturan ini adalah para kaum hawa. Merekalah yang paling sering menjadi korban. Tetapi bagaimana seandainya jika kasus tersebut terjadi karena ulah dari para kaum hawa itu sendiri? Seperti diketahui bersama, seiring dengan kemajuan zaman, para wanita pun menuntut persamaan dengan kaum laki-laki. Mereka pun berlomba-lomba mengejar karier demi untuk membuktikan bahwa mereka juga bisa. Keadaan ekonomi yang menuntut serta kebutuhan hidup yang mendesak.
Namun terkadang dalam perjalanannya sudah melampaui kodrat sebagai seorang ibu rumah tangga bahkan terkesan menjadi superior. Keadaan inilah membuat rentan terjadinya abuse dalam rumah tangga. Begitupun sebaliknya jika suami terlalu dominan dalam posisinya sebagai kepala rumah tangga.
Berkaca pada kasus Manohara, yang terjadi adalah betapa kuatnya dominasi sang suami sehingga mereka dengan leluasa melakukan kekerasan dengan berlindung dibalik keagungan cinta. Ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Bahwa dalam menjalankan kehidupan berumah tangga yang dibutuhkan adalah adanya keseimbangan alami sesuai dengan peranan antara suami sebagai kepala rumah tangga dengan sang istri sebagai ibu rumah tangga.
In Tak Berkategori on 1 Juni 2009 at 4:10 am
Merebut kekuasaan adalah sebuah pekerjaan yang halal. Sepanjang cara-cara yang dipakai tidak bertentangan dengan norma-norma. Sejatinya untuk membawa masyarakat ke kehidupan yang lebih baik dibutuhkan seseorang yang mempunyai kekuasaan atau kewenangan untuk mewujudkannya.
Namun yang terjadi sekarang justru bertolak belakang dengan esensi sebenarnya menjadi pemimpin. Cara yang dipakai pun menabrak norma yang telah ada. Main sikut kiri kanan. Dan yang lebih memiriskan, ada saja orang yang karena ambisius meraih kekuasaan dengan cara memakan “bangkai” saudara, sahabat atau kerabatnya sendiri. Tak peduli dengan orang lain yang menderita sepanjang keinginan mereka tercapai.
Black campaign menjadi biasa, pokoknya orang seperti ini mulai dari bangun tidur hingga tidur yang keluar dari mulutnya hanya KEBOHONGAN. Mereka tidak senang jika melihat orang lain berhasil dan sebaliknya susah jika melihat orang senang/berhasil. Pilpres kali ini pun kita lebih banyak disuguhi permainan “kotor”. Saling menyerang dan bahkan kalau perlu menjatuhkan atau mempermalukan lawan-lawannya demi untuk kursi kekuasaan. Pantaskah orang seperti ini kita pilih memimpin kita?
In Tak Berkategori on 29 Mei 2009 at 1:07 am
Sikap pemerintah malaysia terhadap kedaulatan negara kesatuan sudah keterlaluan. Pulau Ambalat yang secara defacto adalah wilayah RI tidak dihormati. Padahal pulau simpadan dan ligitan sudah diambil dengan cara-cara yang tidak pantas dan memalukan. Sebagai anak bangsa yang selalu diusik dan melihat ibu pertiwi tercinta diobok-obok membuat rasa nasionalisme kita terbakar.
Kita tidak boleh diam dengan kondisi seperti ini. Pengalaman membuktikan malaysia selalu berusaha mengambil keuntungan dari keadaan yang terjadi dewasa ini. Dimana para elite sibuk bertengkar jadi presiden. Seharusnya kita pun sadar bahwa kewibawaan kita dimata negara-negara tetangga sudah hilang. Tidak ada lagi tokoh yang disegani seperti Bung Karno.
Yang mengherankan para pemimpin-pemimpin kita tetap saja mau diperdaya oleh malaysia. Bahkan sekarang lagi trend dimana selalu saja ada tokoh-tokoh dari sana yang mengaku-ngaku masih keturunan bangsawan inilah atau raja itulah tetapi kita tidak tahu apa modus sebenarnya.
Begitupun petinggi-petinggi tentara kita. Daripada sibuk urus politik, jadi tim sukses. Bagaimana kalau menjadi tim pemenangan atas Ambalat supaya wilayah kedaulatan kita tidak diobok-obok lagi. MERDEKA ATAU MATI!
Maaf kalau tulisan ini agak emosional. Tapi ini karena murni kecintaan pada NKRI.
In catatan pendek on 28 Mei 2009 at 3:00 am
Semut makhluk kecil yang selalu dipandang rendah. Bentuk fisik yang kecil, tempatnya yang kotor. Melirik pun kadang kita ogah. Namun pernahkah terlintas dalam benak kita, semut yang buruk pura ini ternyata mempunyai sifat yang selama ini sudah menjadi langka di negeri ini.
Terkadang kita merasa kesal jika makan minum kita dikerubutin semut. Tapi kita tidak pernah bisa belajar dari seekor semut. Malah dengan mudahnya kita membunuhnya.
Coba kalau kita mau merenung sebentar. Betapa sederhananya makhluk kecil ini. Walaupun kita beri 1 liter gula mereka pun hanya mengambil satu biji. Tidak lebih dan tidak kurang. Bandingkan dengan kita, sudah diberi fasilitas berbagai macam tapi masih tetap mengeluh kekurangan. Bahkan tanpa malu-malu masih mengambil lagi milik orang lain alias korupsi.
Mereka pun tidak banyak bicara tapi banyak kerja, bahkan dengan semangat gotong royong tanpa pamrih. Berbeda dengan sikap masyarakat sekarang, semuanya diukur dengan materi. Tidak ada lagi semangat gotong royong. Untuk piket ronda malam saja sudah enggan kalau tidak dibayar, wah gawat!
Mumpung lagi pada sibuk bicara capres, apakah ada dari beberapa figur pemimpin nasional kita yang memiliki karakter semut tadi? Atau jangan-jangan mereka pun enggan mengakuinya. Dan masih dengan sikap angkuh menganggap apa yang mereka miliki sekarang masih kurang dari cukup dan tetap bernafsu menambah pundi-pundi harta tanpa mau peduli dengan orang lain yang kurang beruntung. Wallahu alam bissawab.
Trims buat Maslych atas inspirasinya http://my.opera.com/Maslych/blog
In demokrasi on 27 Mei 2009 at 6:15 am
Masuknya beberapa jenderal purnawiran dalam tim sukses capres menjadi menarik untuk dicermati. Selama ini kita kenal dalam tubuh militer itu sangat kuat hirarki komandonya. Bahkan pada zaman Suharto, faksi-faksi dalam tubuh militer sepertinya tidak pernah kedengaran.
Di era reformasi, semuanya berubah seratus delapan puluh derajat. Para jenderal yang masih aktif maupun tidak seakan-akan ditarik masuk dalam pusaran politik praktis. Hal ini tentu tak bisa dipungkiri, sebab tempat bernaungnya selama ini sudah tidak ada. Syukur-syukur jika mereka yang memasuki usia tua cukup mendapatkan “perhatian” dari pemerintah. Makanya trend barisan sakit hati selalu saja muncul pada setiap musim suksesi.
Yang dikhawatirkan adalah terjadinya konflik kepentingan ditengah-tengah gencarnya suara untuk menjadikan lembaga TNI profesional. Kita semua sudah tahu bahwa para jenderal tersebut memiliki gerbong masing-masing. Hal yang tentu sangat berbahaya bagi iklim demokrasi jika mereka semua lebih mengedepankan kepentingan serta ambisi berkuasa dibandingkan untuk kepentingan nasional.
Para politisi pun hendaknya berpikir dan bertindak wajar. Jangan hanya karena ambisi berkuasa maka para jenderal dipasang sebagai tim sukses. Tentara adalah aset bangsa. Jadi milik semua pihak atau kelompok. Prinsip ini tetap harus dijaga bersama. Bisakah nilai-nilai ini kita jaga besama?
In catatan pendek on 26 Mei 2009 at 3:29 am
Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengharamkan FACEBOOK, jaringan sosial online yang sedang trend dikalangan anak muda menjadi pro kontra. Keputusan yang sama kontroversialnya saat merokok juga dinyatakan haram.
Kenapa lembaga terhormat, dimana berisi para ulama-ulama serta ahli-ahli agama ini sampai terlalu jauh mengintervensi hal-hal yang pada dasarnya tidak terlalu substansial dengan kehidupan beragama masyarakat. Apa bedanya kemajuan teknologi sms/mms (pesan singkat) dengan facebook tersebut.
Kita tentunya tidak berprasangka buruk terhadap keputusan lembaga tersebut. Namun hendaknya lembaga tersebut tidak mengobral fatwa-fatwanya hanya untuk mencari popularitas semata. Toh di internal mereka juga masih terjadi perbedaan persepsi. Ini sama saja dengan mempertontonkan kekonyolan sendiri.
Kalaupun selama ini banyak yang mengasumsikan bahwa dengan keberadaan facebook membuat angka perceraian akibat selingkuh makin tinggi tentu masih harus ditelaah lebih jauh lagi. Memang teknologi disamping memberikan nilai positif tentu disisi lain juga mempunyai pengaruh negatif. Namun pada dasarnya itu semua kembali kepada diri masing-masing.
Jangan lupa, teknologi dengan berbagai kemudahannya hanyalah semacam tools sedangkan motor penggerak utamanya adalah manusia itu sendiri.
Sebagai warga masyarakat tentu mempunyai harapan-harapan sekiranya lembaga MUI dapat mereview kembali keputusan kontroversial tersebut. Masih banyak persoalan-persoalan bangsa yang sepatutnya menjadi fokus lembaga ulama kita ini.
In catatan pendek on 25 Mei 2009 at 4:45 am
Saling klaim atas keberhasilan serta saling tuding jika tidak berhasil adalah fenomena biasa jelang pilpres. Semua merasa diri paling baik,sempurna dan berkompeten untuk dipilih. Yang lainnya tidak memenuhi kriteria dan sepantasnya jangan dipilih.
Penjualan citra diri melebihi cara penjualan produk-produk rumah tangga. Minyak goreng terbaik, kecap nomor satu dan lain sebagainya. Ongkos yang dikeluarkan pun tak tanggung-tanggung, dengan satu tujuan bagaimana bisa meraih simpati masyarakat sehingga mereka bisa dipilih.
Dengan model pencitraan seperti ini para kandidat tampil bak Sinterklas, datang dengan membagi-bagikan hadiah pada anak-anak kecil. Masyarakat (pemilih) juga tak kalah hebohnya. Walaupun mereka tahu ini hanyalah angin surga toh mereka juga senang dibohongi. Bahkan lebih tragisnya mereka mau saja menukar suara hanya dengan uang 50 ribu. Astaga!
In catatan pendek on 23 Mei 2009 at 1:51 pm
Bingung memilih diantara beberapa pilihan akhir-akhir ini sepertinya telah menghinggapi benak rakyat. Gempuran iklan serta slogan yang memberi angin surga bagi mereka yang selama ini telah terhimpit sekian banyak persoalan hidup. Mulai dari problem pekerjaan, peluang usaha, kesehatan serta pendidikan anak-anak telah menjadi momok yang sangat menakutkan.
Tak heran pula pertunjukan ketoprak politik menjadi saluran pelampiasan “amarah” akan situasi dimana ketidakadilan masih jauh bagaikan pungguk merindukan bulan. Adu argumen, bersilat lidah sudah menjadi santapan sehari-hari. Tak jelas ujung pangkalnya, semuanya berteriak atas nama rakyat dan membela kepentingan rakyat. Namun kenyataannya yang dibela mati-matian adalah kepentingan diri sendiri, kelompok mereka sendiri dan konco-konco mereka sendiri. Rakyat hanya menjadi stempel legalitas untuk mendapatkan kekuasaan untuk menghisap habis semua sumber daya alam Indonesia hingga kering kerontang.
Masih adakah harapan yang bisa digantungkan? Kepada siapa rakyat bisa mengadu? Berkaca pada pileg barusan sungguh sangat vulgar kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh mereka-mereka yang katanya “terhormat”. Jadi apa lagi yang bisa kita harapkan kepada mereka yang telah membeli suara rakyat. Dan bagi rakyat, apalagi yang mereka bisa tuntut jika mereka telah menggadaikan sendiri suaranya selama ini.
Akankah ajang pilpres akan menjadi arena pertukaran kehormatan serta harga diri dengan gemerincing uang serta kilauan kekuasaan semata?
demokrat., koalisi, megawati, pdip, Sby, taufik kiemas
In Tak Berkategori on 12 Mei 2009 at 9:48 am
Koalisi besar yang digagas oleh partai-partai besar non partai demokrat nampaknya sudah berada diujung tanduk.
Sinyal dari PDIP telah menguatkan dugaan tersebut. Ditambah lagi pengakuan SBY pada pidato kemenangan partai demokrat. Nasib koalisi besar hanya tinggal masa lalu.
Kalau kita merujuk pada konsistensi Megawati selama ini, tentu bertolak belakang dengan karakter sebenarnya. Keteguhan ini malah telah dibuktikan selama 5 tahun dengan mengambil sikap oposisi terhadap pemerintah.
Namun yang sering menjadi ganjalan selama ini adalah, peranan dari suami Mega sendiri. (Taufik Keimas). TK selama ini sangat dikenal mampu mengambil alih kemudi partai pada saat menghadapi situasi genting seperti saat ini.
Kalau pun alur ceritanya seperti ini, maka sebenarnya di internal PDIP itu sendiri telah terjadi blok atau faksi. Lebih sederhananya, faksi itu dapat dilihat pada tiga kelompok besar.
Yang pertama tentunya gerbong yang dibawa oleh TK, didalamnya ada Cahyo Kumolo, gerbong kedua adalah Pramono Anung dengan beberapa fungsionaris yang tetap komit dengan pencapresan Mega, sedangkan gerbong terakhir adalah Megawati sendiri yang tentunya lebih condong menyatu dengan gerbong pertama.
Sekarang mari kita menunggu siapa diantara ketiga faksi tersebut yang keluar sebagai jawara. Yang pasti koalisi besar berada pada posisi yang sangat dilematis. Antara komitmen perjuangkan rakyat dengan iming-iming kue kekuasaan.
capres, Golkar, Jk, legowo, mundur
In demokrasi on 1 Mei 2009 at 12:02 pm
Relakah Partai Golkar menjadi oposisi? Pertanyaan ini selalu mengusik perasaan setiap kali melihat sepak terjang para elit partai menyikapi pencalonan presiden.
Sebagai partai yang mempunyai segudang pengalaman tentu sangat riskan mengambil posisi berseberangan dengan pemerintah atau penguasa. Tetapi jika mau realistis dengan perolehan suara partai, maka sudah selayaknya jika para elit PG mengintrospeksi diri bahwa masyarakat menginginkan sesuatu yang different about mission golkar. Sesuatu yang bisa menjelma jadi democracy empowered dan awakening opposition di tanah air tentunya :p
Akh masa iya, ini barangkali cuma mimpi
bagi saya yang ingin melihat sesuatu yang beda dan berarti. Seandainya JK mau legowo, sebagai bentuk pertanggungjawaban dan masih banyak andai-andai lainnya. Sayang seribu sayang saya cuma bisa berangan-angan. Keputusan akhirnya ada pada mereka yang di “atas”. Wallahu alam.
Budak, pemimpin, politik, Uang
In catatan pendek on 30 April 2009 at 7:13 am
Pada saat ini untuk menjadi seorang pemimpin dalam garis struktural amatlah sangat sulit. Pemimpin politis tidak hanya semata-mata mengandalkan kharismanya saja. Tetapi lebih dari itu, harus diback up dengan kekuatan finansial yang kuat.
Era demokrasi terbuka mengharuskan para leaders memperkuat jaringan ekonomi mereka agar bisa tetap survive.
Sebab tanpa itu kecerdasan intelektual tidak akan bisa eksis tanpa dibarengi pula dengan kecerdasan finansial.
Apakah ini berarti kita telah kehilangan kepercayaan pada kemampuan personal kita masing-masing, atau dengan kata lain kita semua telah menjadi money slaver.
demokrat., gokar, jilat ludah, Jk, koalisi, partai, pilpres, Sby
In demokrasi on 18 April 2009 at 1:09 am
Rencana membangun kembali koalisi antara Partai Demokrat dengan Partai Golkar dalam pilpres menuai banyak kecaman di internal Partai Golkar sendiri.
Ini berarti langkah Jusuf Kalla belum mulus. Bakal pecahnya suara yang menjurus pada pro maupun kontra soal pencalonan JK sebenarnya sudah terlihat dari awal sebelum pemilihan. Dihapuskannya sistim konvensi menjadikan sebahagian kader merasa tidak nyaman. Hal ini berimbas pada sikap politik Sultan untuk tetap ngotot maju jadi capres.
Keengganan JK juga nampak pada saat beliau menerima desakan DPD-DPD untuk maju jadi capres. Hasilnya pun mudah ditebak. Keinginan untuk kembali bersanding dengan SBY lebih besar. Hal ini juga didukung pada realitas pemilu dimana Partai Golkar hanya mampu meraup suara 14%.
Disinilah muncul kegamangan pada diri JK. Jika menerima kembali pinangan SBY maka dia dicap sebagai pemimpin yang tidak memegang teguh kata-katanya. Dimana sikap seperti ini sangat pantang bagi suku bugis-makassar. Sebaliknya, jika menolak, kredibilitas dan harga diri partai tetap terjaga. Dan yang pasti tidak terkesan menjilat kembali ludahnya sendiri.
Bagaimana cara JK keluar dari polemik ini ? Tentunya kita masih harus menunggu lagi hasil dari loby-loby partai lain yang tak bisa lepas dari kesan “jilat ludah”. Dan yang pasti, bukan politik namanya jika tidak selalu memunculkan kejutan-kejutan.
bandel, dpt, masyarakat, pemerintah, pemilih
In Caleg on 9 April 2009 at 12:52 pm
Lucu rasanya melihat tingkah lalu para calon pemilih yang tidak masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT). Apalagi dengan sikap yang memaksa untuk ikut pencontrengan. Ada urusan apa kok tiba-tiba mereka begitu memaksa untuk ikut?
Dari segi logika, pemerintah sudah sejak dari awal telah mewanti-wanti agar masyarakat terlibat aktif dalam proses pesta demokrasi ini. Diumumkan dari tempat-tempat ibadah, pusat keramaian dan kantor pemerintahan. Namun masih ada sebahagian masyarakat kita yang bersikap masa bodoh.
Nanti menjelang dekat hari pencontrengan baru kasak-kusuk menyalahkan aparat pemerintahan.
Melihat sikap masyarakat yang tergolong bandel ini. Seharusnya tidak perlu ditanggapi terlalu serius. Mereka hanya ingin mencari sensasi dengan terlalu banyak menuntut hak tapi tidak mau tahu dengan kewajibannya sebagai warga negara.
Caleg, demokrasi, legislatif, partai, stress
In Caleg on 2 April 2009 at 1:30 pm
Tanda-tanda bakalan banyak orang yang stress pasca pileg mulai nampak. Mendekati hari H, hampir setiap hari ada-ada saja yang kelakuan “aneh” dari para caleg.
Kita tidak usah hitung mereka yang terkadang duduk termenung sambil menatap kosong entah memikirkan apa, sampai dengan bicara mencak-mencak tidak tahu mau marah sama siapa.
Tempat mereka melampiaskan kekesalan atau uneg-unegnya umumnya di warung-warung kopi. Otomatis para pemilik warkop harus extra hati-hati jika ingin melayani caleg seperti ini.
Inilah buah dari demokrasi yang kita bangun bersama. Dimana ruang untuk menyampaikan segala aspirasi terbuka begitu lebar. Namun nampaknya tingkat partisipasi politik masyarakat tidak dibarengi dengan sumber daya manusia yang memadai. Jadilah mereka seperti orang-orang kebingungan tanpa arah dan tujuan yang jelas dalam menyikapi demokratisasi yang sedang berlangsung sekarang
Namun bukan berarti kita harus mundur kebelakang lagi. Sebab dengan demokrasi yang sedang kita jalankan sekarang masih lebih baik dibandingkan dengan sistim otoriter.
Hanya saja kita sebagai elemen pendukung gerakan demokrasi harus tetap waspada dari upaya-upaya pihak-pihak tertentu yang tidak senang dengan kebangkitan demokrasi di tanah air.
Salah satunya adalah dengan tetap aktif mengawal serta memberi kontribusi kepada pemerintah sehingga demokrasi tetap berada pada jalur yang semestinya.
Kembali pada soal caleg yang stress, pemerintah selayaknya memberi perhatian serius. Indikasinya adalah begitu minimnya wawasan para caleg tersebut sehingga mereka berlomba-lomba masuk parlemen semata-mata untuk perbaikan perbaikan nasib doang. Sama halnya dalam pola rekrutmen dan penempatan person dalam jabatan-jabatan politis. Hal ini masih sangat kental nuansa euforia dari partai-partai.
Apapun konsekuensinya sepanjang tidak “membahayakan” demokrasi itu sendiri tidaklah menjadi soal. Justru dengan bunga-bunga demokrasi tersebut semakin menambah indah keberagaman bangsa kita tercinta, Indonesia.
gerindra, partai, prabowo, presiden, rising star
In demokrasi on 27 Maret 2009 at 1:00 pm
Tak bisa dipungkiri, popularitas capres yang diusung Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya) ini, Prabowo Subianto menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan.
Dari calon yang dipandang sebelah mata, menjadi calon yang paling diperhitungkan saat ini.
Apa yang menyebabkan sosok mantan menantu Bapak Pembangunan Indonesia, H. M. Soeharto dan berjuluk “Rising Star” ini mampu meraih simpati rakyat dalam tempo yang relatif singkat.
Merujuk pada blog saudara M. Shodiq Mustika, dimana selebriti cantik Maia, mantan personil Ratu begitu “tergila-gila” dengan sosok mantan danjen kopassus itu, karena melihat figur ini memiliki watak rendah hati, tegas dan tidak sombong.
Salah satu contoh kerendahan hati beliau yakni ketika dengan terbuka mengakui kesalahan masa lalunya dan meminta maaf kepada semua rakyat Indonesia.
Mampukah Prabowo membuktikan bahwa dirinya memang layak dan pantas menjadi orang nomor satu di Indonesia? Mari kita tunggu dan lihat pilihan rakyat pada pemilu yang akan datang.
demokrat., Golkar, Jk, koalisi, maag, MEGA, pdip, presiden, promaag, sakit, Sby
In demokrasi on 17 Maret 2009 at 2:06 am
Entah karena apa tiba-tiba SBY pada kunjungan kerjanya di Sulawesi Selatan terkena sakit maag.
Banyak rumor beredar ikhwal sakitnya presiden.
![]()
Kondisi politik yang semakin memanas, topik keretakan Demokrat dengan Golkar hingga rumor bahwa SBY tidak enjoy dengan sambutan simpatisan dan kader Partai Demokrat Sulsel yang dianggapnya terlalu over.
Agenda pertemuan JK dengan Mega juga menjadi sasaran berkembangnya rumor tak sedap tentang diri SBY. Sebenarnya Mega dengan PDI Perjuangan telah lama mengincar JK. Buktinya dapat kita lihat dari begitu antusiasnya elit partai menyikapi pecahnya pasangan “Bersama Kita Bisa” ini
Untuk menghindari semakin banyaknya isu-isu menyangkut insiden sakit tersebut, SBY merasa perlu untuk memberi klarifikasi.Yang intinya menegaskan bahwa beliau murni sakit karena nyeri lambung.
Secara umum kita lihat bahwa kedua tokoh nasional ini takkan mungkin lagi bisa berduet pada pilpres yang sebentar lagi akan digelar. Fakta Seputar Retaknya SBY-JK,dan tentunya masih banyak lagi fakta-fakta yang menguatkan bubarnya koalisi tersebut.
Dari awal memang bisa dilihat adanya ketidakcocokan antara keduanya. Beda karakter serta gaya kepemimpinan ibarat air dan minyak. Hanya saja kedua pemimpin tersebut telah memperlihatkan dan membuktikan bahwa perbedaan mendasar tersebut bukan hambatan dalam menjalankan roda pemerintahan.
Bahkan tak bisa kita pungkiri, kinerja duet SBY-JK lebih smart dan fokus. Meskipun tak bisa dikatakan sempurna.
Justru karena indikasi keberhasilan pemerintahan sekarang yang membuat kedua-duanya tetap menjadi jualan paling laku bagi para politikus. Boleh dikata tak ada satupun bakal capres yang bisa menandingi popularitas dan elektibilitas kedua pemimpin nasional tersebut.
![]()
abdul hadi djamal, budaya, korupsi, KPK, malu, PAN, siri, sulsel, syahrul yasin limpo
In catatan pendek on 8 Maret 2009 at 6:47 am
Kasus korupsi yang menimpa para politisi Senayan yang sebahagian berasal dari Sulsel pertanda apa?
Harian Kompas malah mengangkat tema yang rada-rada menakutkan, Korupsi Telah Membahayakan Demokrasi! Apakah memang sudah seperti itu penyakit korupsi di lembaga terhormat tersebut? Silahkan Anda sendiri yang menjawabnya.
Masih dalam koran yang sama,
reaksi dari para pendukung Abdul Hadi Djamal dengan menggelar doa bersama sebagai rasa simpati bagi Abdul Hadi yang telah resmi jadi tersangka.
Mereka juga memprotes pemecatan Abdul Hadi, membakar foto Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir dan menyerukan para pendukungnya untuk golput.
Padahal boleh dikata Abdul Hadi Djamal cs lah yang selama ini getol memperjuangkan dana-dana pembangunan dari pusat sehingga dapat dinikmati oleh masyarakat Sulsel.
Dari materi-materi kampanye yang disebarluaskan, digambarkan beberapa keberhasilan dari mega proyek yang kesemuanya adalah hasil kerja serta lobi-lobi para politisi asal Sulsel di Senayan. Makanya kita tentu tidak heran jika reaksi keras dari masyarakat Sulsel dalam menyikapi kasus ini. Bahkan sebagian mungkin menganggap beliau adalah Bapak Pembangunan Sulsel. Baca juga komentar Gubernur Syahrul Yasin Limpodi sini,yang menganggap sosok Hadi Djamal telah banyak membantu pembangunan di Sulsel.
Lantas bagaimana jika kasus yang menimpa beliau dikaitkan dengan budaya siri atau malu yang dimiliki oleh orang Bugis Makassar? Mungkin perlu rekonstruksi ulang dari para budayawan Sulsel tentang makna hakiki dari budaya siri itu sendiri.
Kembali pada ancaman demokrasi, korupsi sudah menjadi bagian tak terpisahkan dariI kehidupan kita sehari-hari. Korupsi sudah menjadi bahaya laten bagi bangsa ini.
Untuk kedepannya, pemimpin siapa pun yang terpilih, komitmen teguh terhadap bahaya laten korupsi tidak bisa ditawar-tawar lagi. Komitmen ini pun harus dibuktikan dengan tindakan nyata terhadap para koruptor tersebut. Kita tidak ingin lagi mendengar adanya istilah tebang pilih dalam setiap penanganan kasus korupsi di tanah air.
Inilah tantangan terberat bagi putra-putri terbaik Sulsel untuk tampil sebagai pemimpin nasional akan datang.
aspirasi, Caleg, jualan, Soppeng, sosialisasi
In Caleg on 7 Maret 2009 at 3:57 am
Guna lebih mendekatkan para caleg dengan konstituen di daerah pemilihan masing-masing, FOSPIRA (Forum Aspirasi Rakyat Soppeng) menjalin kerjasama dengan Pemkab Soppeng menggelar hajatan dengan tajuk, “Ketika Kenapa Harus Memilih vs Kenapa Jadi Caleg”
Andi Djuanda selaku penggagas hajatan ini mengatakan, “Fospira sebagai salah satu wadah penampung aspirasi rakyat tergerak untuk ikut serta bersama-sama seluruh komponen masyarakat menyukseskan pemilu yang sebentar lagi akan digelar.”
Ditambahkan lagi, “hajatan ini akan berlangsung di tiap-tiap dapil dengan durasi waktu 120 menit,” ujar mantan bakal calon gubernur ini.
Sambutan serta antusias masyarakat khususnya para caleg sangat positif. Menurut Andi Tenri Bali Mappejanci, “hajatan ini sangat membantu kami mensosialisasikan diri kepada pemilih, ini lebih efektif dibandingkan dengan menebar baliho disetiap sudut-sudut kota,” ujar caleg Partai Patriot dari dapil III ini.
Mekanisme penetapan caleg berdasarkan suara terbanyak juga membuat perubahan cukup signifikan terhadap prilaku para caleg. Hal ini mendorong mereka untuk berlomba-lomba menjual program tanpa harus terikat dengan mekanisme partai masing-masing.
“Fenomena seperti inilah yang membuat Fospira mengambil langkah guna membantu masyarakat untuk dapat memilih wakilnya dengan lebih baik,” tukas Andi Djuanda.
halal, kampanye, palsu, pemilu, Uang
In catatan pendek on 2 Maret 2009 at 12:48 pm
Maraknya peredaran uang palsu semakin mengkhawatirkan. Seiring dengan perkembangan teknologi canggih masa kini, maka sangat sukar membedakan mana uang asli dan yang palsu.
Betulkah Cendana Dibelakang Prabowo?
Otoritas perbankan (BI) memang gencar mengkampanyekan gerakan anti uang palsu dengan memberi langkah-langkah guna mencegah/mengenali uang palsu. Istilah 3D (dilihat, diraba, diterawang) memang bisa membantu masyarakat mengenal ciri-ciri uang palsu. Tapi dengan perkembangan teknologi maka hal itu sepertinya sudah sangat sulit lagi dilakukan tanpa memakai metode atau alat khusus lainnya.
Berdasarkan perkiraan uang palsu (upal) yang beredar sepanjang tahun 1988 hingga 2004 lebih dari Rp. 800 miliar. Data lengkapnya bisa dilihat di sini. Dan yang mengherankan peredaran upal tersebut justru meningkat pada waktu jelang kampanye atau pemilihan umum.
Untuk itu masyarakat luas perlu dihimbau agar senantiasa waspada dengan maraknya penipuan dengan memakai upal.
Betulkah Cendana Dibelakang Prabowo?
amanah, demokrat., Golkar, Jk, munafik, nasional, partai, pemimpin, Sby
In demokrasi on 23 Februari 2009 at 7:23 am
Perpisahan pasangan ‘Bersama Kita Bisa’ mengundang pertanyaan serta berbagai tanggapan masyarakat luas.
Sebagian orang tidak menyangka pasangan SBY-JK akan berpisah diakhir perjalanan pemerintahan mereka, yang lainnya beranggapan bahwa hal ini sudah pasti akan terjadi. Dengan kata lain dalam politik tidak ada kawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan.
Walaupun masih banyak yang meragukan keputusan tersebut, namun faktanya memang sangat susah untuk mempersatukan kembali pasangan tersebut.
Pandangan berbeda juga disampaikan, Saudara Djaja dalam komentarnya di Fakta Seputar Keretakan Hubungan SBY-JK, dimana ia mengaku kecewa dengan keputusan kedua pemimpin nasional tersebut. Keputusan tersebut telah melanggar amanah dan munafik sehingga menyerukan gerakan ABS ditambah juga dengan ABJ.
SBY-JK seharusnya sadar bahwa mereka dipilih oleh rakyat adalah amanah besar. Sehingga amanah dan tanggung jawab tesebut harus diselesaikan sampai tuntas. Bukan hanya kasak-kusuk memikirkan jabatan dan kekuasaan.
Sebagaimana diberitakan Kompas, Ketua Umum NU Hasyim Muzadi juga berpendapat agar kedua pemimpin tersebut tidak saling adu argumen tentang pencalonannya masing-masing.
Disatu sisi desakan kader-kader Golkar untuk mencapreskan Jusuf Kalla juga menunjukkan sifat tidak percaya diri mereka sehingga harus menarik serta menjual figur ketua umum untuk bisa memenangkan pileg (pemilihan legislatif).
PDIP sendiri menyambut gembira rencana ‘perceraian’ kedua pasangan tersebut. Bahkan dengan nada optimis Taufik Kiemas yakin koalisi antara PDIP dengan Golkar akan terwujud secepatnya. Tanda-tanda kearah itu memang sudah terlihat dari begitu gencarnya Megawati menggalang dukungan dari wilayah Timur Indonesia. Apakah ini pertanda memang Megawati Incar JK?
Adapun tanggapan dari SBY dapat dilihat SBY Info
capres, independen, mk, pilpres, sutiyoso, UU
In demokrasi on 19 Februari 2009 at 2:22 pm
Bagi mereka yang ingin maju jadi calon presiden dari jalur independen atau perseorangan terpaksa gigit jari. Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi menyatakan menolak permohonan Fadjroel Rachman cs atas uji materi UU No.42/2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden tersebut.
Bahkan anggota DPR dari Partai Golkar, Yuddy Chrisnandi mengatakan di sini, bahkan dia mengajak gerakan pro demokrasi menghimpun dukungan rakyat untuk mengamandemen UUD 1945.
Persoalannya, kenapa harus menunggu sampai tahun 2014? Atau ini hanya sebagai taktik untuk mengulur-ulur waktu.
Putusan ini juga diwarnai pendapat berbeda (dissenting opinion). Dimana 3 orang hakim berpendapat MK seharusnya membuka peluang bagi capres independen.
Sutiyoso yang dimintai komentarnya juga mengaku merasa kecewa dengan putusan tersebut. Komentar selengkapnya bisa dilihat
di Kendari Pos Online
Harapan itu masih ada. Dan kita lihat langkah selanjutnya dari gerakan pro demokrasi di tanah air.
![]()
anggaran, dprd, eksekutif, legislatif, memangkas, Pemkab, Soppeng
In civil society on 18 Februari 2009 at 2:10 am
Peran lembaga legislatif di era reformasi sangatlah penting. Sebagai mitra eksekutif dalam menjalankan roda pembangunan tentunya pengharapan yang tinggi dari masyarakat berada di tangan anggota dewan yang terhormat tersebut.
Hal ini dapat dilihat pada setiap rapat-rapat pembahasan APBD. Tarik menarik antara eksekutif dengan legislatif menunjukkan adanya dinamika positif didalamnya. Inilah hasil dari reformasi yang selama ini kita idam-idamkan.
Harian Fajar
pada halaman Bosowa (Bone, Soppeng, Wajo) mengangkat judul DPRD memangkas anggaran yang diusulkan beberapa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Soppeng
Sebagian anggaran mereka dinilai tidak rasional dan kegiatannya tidak jelas.
“Jumlahnya mencapai miliaran rupiah,” ungkap Ketua Komisi B DPRD Soppeng, Nur Naping dalam rapat paripurna lanjutan pembahasan rancangan anggaran pendapatan dan belanja daerah (RAPBD) 2009 di DPRD Soppeng, senin 16 Februari.
Apakah ini berarti anggota dewan Kabupaten Soppeng sudah bekerja dengan baik?
![]()
demokrat., Golkar, koalisi, partai, presiden, retak, SBY-JK
In catatan pendek on 14 Februari 2009 at 4:50 am
Ada beberapa fakta yang menyebabkan keretakan hubungan SBY – JK yang berujung pada terjadinya rivalitas di antara keduanya pada pilpres 2009.
Denny JA melalui artikelnya Tes Bagi Duet Yudhoyono Kalla
secara gamblang menjelaskan perbedaan mendasar antara kedua pemimpin tersebut.
Fakta pertama :
Hasil rapimnas partai demokrat yang tidak membicarakan secara langsung siapa yang mendamping SBY. Hal ini bisa menimbulkan banyak penafsiran diantaranya akan ada pengganti Jusuf Kalla sebagai cawapres mendampingi SBY.
Fakta kedua :
Pernyataan kontroversial wakil ketua umum partai demokrat yang dinilai melecehkan partai golkar. Dalam hitungan politis perolehan suara partai demokrat tidak akan mungkin melebihi partai golkar.
Walaupun pada artikel berikutnya, Menjaga SBY-JK
Bung Denny mencoba memberi gambaran suasana politik jika duet SBY – JK berpisah namun nampaknya konstelasi politik nasional dewasa ini justru kebalikannya.
Godaan kekuasaan lebih dominan mempengaruhi masing-masing kandidat. Hal ini secara otomatis membuat komitmen-komitmen antar partai sangat rapuh atau bubar.
Akankah duet SBY-JK mampu bertahan pada pilpres 2009?
![]()
budaya siri, bugis makassar, demokrat., Golkar, Jusuf kalla, partai politik, pilpres
In Caleg, Tak Berkategori on 11 Februari 2009 at 6:13 am
Komentar miring Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat terhadap Partai Golkar membuat hubungan harmonis antara dua partai tersebut terancam bubar.
Walaupun hal tersebut telah dibantah langsung oleh SBY sebagai Ketua Dewan Pembina Partai nampaknya benih-benih persaingan yang mengarah pada perpecahan sudah mulai nampak.
Tanggapan balik dari Ketua Umum Partai Golkar tidak kalah serunya. Bahkan beliau mempersilahkan Partai Demokrat berkoalisi dengan partai lain.
Sebagai partai besar sudah saatnya Golkar mengambil sikap tegas mengenai calon presiden yang akan diusung. Langkah ini akan mampu menggerakkan mesin partai sehingga lebih solid memenangkan pemilu.
Dan sudah seyogyanya Jusuf Kalla yang juga sebagai ketua umum partai maju menjadi calon presiden. Pengalaman beliau sebagai wapres adalah modal besar dan sudah tidak diragukan lagi kemampuan kepemimpinannya.
Baca juga GOODBYE SBY JK!
![]()
gerindra, hanura, koalisi, politik, presiden
In demokrasi on 7 Februari 2009 at 2:03 am
Seperti halnya pidato-pidato politik lainnya yang secara umum sarat dengan konten janji-janji manis. Begitu pula kira-kira gambaran dari pidato politik Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto.
Saya tidak terlalu serius menanggapi pidato beliau. Tetapi saya lebih tertarik untuk menelaah makna politis beliau sehingga berani mengambil keputusan maju sebagai capres melalui Partai Gerindra.
Kalau kita mencoba mengambil dasar dari persyaratan untuk mengajukan calon sangatlah berat bagi Prabowo dengan Gerindranya untuk lolos. Mereka harus mampu mengalahkan dua kekuatan partai politik besar yakni Partai Golkar dan PDIP. Yang paling realistis adalah Gerindra membentuk koalisi dari salah satu partai besar tersebut.
Wiranto pun memiliki persoalan yang sama. Partai Hanura harus berjuang keras agar dapat memenuhi persyaratan sesuai dengan amanat UU.
Yang jadi pertanyaan, untuk apa dua orang mantan petinggi TNI ini mempertaruhkan diri dalam pilpres nanti?
Dari sudut politis tentu semuanya bisa saja terjadi. Dan tidak menutup kemungkinan pada detik-detik menentukan dua kekuatan ini bersatu membangun komitmen yang tentunya tidak bisa dipandang sebelah mata lagi. Kita tunggu tanggal mainnya!
Kalau koalisi ini terbangun maka akan muncul sekurang-kurangnya tiga kekuatan politik besar yang akan bertarung. Sedangkan partai-partai yang berbasiskan agama akan membagi diri diantara tiga kekuatan politik tersebut.
Adapun SBY dengan Demokratnya tentu masih harus bersabar menunggu hasil pemilihan legislatif. Dengan posisinya sebagai presiden, maka akan banyak sekali partai-partai kecil yang mengincarnya. Tentunya dengan harapan bisa nebeng popularitas.
In demokrasi on 6 Februari 2009 at 4:23 am
Insiden yang menewaskan Ketua DPRD Sumut menghentak kita semua. Inikah bentuk demokrasi yang kita telah bangun?
Penyampaian aspirasi serta tuntutan akan hak ternyata menjadi alasan pembenar untuk merampas hak orang lain. Anarkisme telah menjadi simbol dari demokrasi.
Lantas bagaimana nasib pemilu yang sebentar lagi akan digelar? Membayangkannya saja sudah membuat merinding.
Insiden tersebut hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Bahwasannya demokrasi bukan berarti tanpa rambu-rambu. Saling menghargai perbedaan pendapat adalah mutlak.
ABS, media massa, opini, Propaganda
In catatan pendek on 3 Februari 2009 at 12:56 am
Perang opini atau urat syaraf melalui media massa adalah hal yang lumrah apalagi menjelang perhelatan politik nasional.
Namun dewasa ini iklim politik tidak sehat mulai nampak. Pembunuhan karakter serta propaganda media massa yang tidak mendidik menjadi sarapan tiap hari publik.
Dimulai dari debat yang tidak ada ujung pangkalnya sampai pada lontaran-lontaran isu yang tidak jelas sumber beritanya. Hal semacam ini telah menjadi lahan subur bagi industri informasi guna menaikkan rating atau oplah.
Untungnya masyarakat kita pun semakin cerdas dalam memilih informasi. Hal ini nampaknya mulai disadari oleh publik sehingga media massa yang tidak jeli mengangkat tema serta isu bakalan ditinggalkan oleh pemirsa.
Media massa apapun yang terbawa arus kepentingan politik tertentu tidak akan mampu bertahan lama. Walau dengan alasan ekonomi sekalipun itu tetap sama dengan menggali kuburan sendiri.
Sekarang publik tahu mana berita yang layak dikonsumsi atau tidak. Mana yang betul-betul menyentuh kepentingan orang banyak atau hanya sebagai propaganda media untuk meraup iklan sebanyak-banyaknya.
Publik semakin diuntungkan dengan beraneka ragamnya pilihan media massa yang tersedia. Bahkan dengan kecanggihan teknologi informasi khususnya internet semakin memudahkan publik untuk mengakses segala macam informasi.
Sekarang memang eranya informasi. Siapa yang menguasai informasi dialah yang menguasai dunia. Tapi kita tetap harus waspada dan memberi filter terhadap informasi-informasi menyesatkan. Dengan kata lain publik pun berhak mendapatkan informasi yang layak bukan suguhan informasi dari Media Massa ABS (asal bapak senang).
anggaran, APBD, eksekutif, korupsi, legislatif
In catatan pendek on 31 Januari 2009 at 5:06 am
Tarik ulur pembahasan APBD antara eksekutif dengan legislatif sarat dengan kepentingan politis dan opportunis. Hal ini semakin diperparah lagi dengan masa bakti para anggota dewan yang segera akan berakhir. Kondisi seperti ini membuka lebar peluang terjadinya praktek “jual beli anggaran” yang pada akhirnya mengorbankan kepentingan rakyat.
Penjarahan uang rakyat ini berlangsung secara meluas dan sistimatis. Tetapi karena modus operandinya sangat canggih maka sangat riskan bagi rakyat awam untuk mengetahuinya. Bahkan seringkali kita mendengar rapat pembahasan mengenai anggaran dilakukan di hotel mewah dan tertutup.
Gagasan untuk menghadirkan pihak KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dalam setiap proses pembahasan anggaran di DPRD patut diacungi jempol. Namun sayang seribu sayang gaungnya tidak sampai ke daerah-daerah. Padahal dengan semangat otonomi distribusi anggaran dari pusat ke daerah tiap tahun bertambah jumlahnya. Inilah yang sangat rawan disalahgunakan jika tidak ada regulasi yang melindunginya.
Gerakan penyelamatan APBD sehingga lebih pro rakyat yang dimotori oleh LSM-LSM lokal (belum tercemar!) menunjukkan indikasi perselingkuhan antara eksekutif dengan legislatif di daerah berlangsung marak. Pola pengawasan yang sangat lemah ditambah lagi dengan sumber daya manusia yang tidak profesional membuat praktek ini berlangsung terus.
Mampukah kita menghentikan pencurian uang rakyat ini? Atau kita hanya bisa menonton mereka berpesta pora diatas penderitaan rakyat. Aukh ah gelap…
barongsai, cina, HAM, ORBA, reformasi
In Hak Asasi Manusia on 27 Januari 2009 at 1:52 am
Pada zaman orde baru adalah sebuah pemandangan langka jika kita dapat melihat BARONGSAI. Begitu pun dengan perayaan hari-hari besar Cina. Semua itu masih dianggap tabu dan hanya bisa dilakukan pada ruang lingkup yang terbatas. Pembatasan Hak Asasi Manusia (HAM) ini berlangsung hingga rezim orba berakhir.
Di era reformasi semuanya berbalik seratus delapan puluh derajat. Perayaan Tahun Baru Cina bukan lagi milik etnis Tinghoa lagi melainkan menjadi aset bangsa yang mejadi rebutan para politisi. HAM menjadi primadona dimana-mana.
Ada cerita menarik yang bisa kita ambil hikmahnya dibalik era reformasi sekarang ini. Seorang bupati yang hobby nongkrong sambil minum kopi di warkop yang kebetulan pemiliknya adalah orang Cina.
Pada suatu hari sang bupati minum kopi dengan para koleganya namun tiba-tiba pemilik warkop dengan percaya diri menghampirinya sambil membawa tagihan hutang yang ternyata belum dibayar. Apa yang terjadi selanjutnya?
Sontak bupati naik pitam karena merasa telah dipermalukan. Bahkan dengan nada setengah mengancam akan mencabut izin usaha warkop tersebut. Namun yang lebih mengejutkan lagi reaksi pemilik warkop tersebut justru menantang dan tetap ngotot menagih hutang bupati. Sesuatu yang tentunya sangat diluar dugaan semua orang.
Inilah buah dari reformasi. Tidak ada lagi warga kelas satu atau kelas dua. Semua sama kedudukan dan bebas mengekspresikan diri.Begitu pun yang melanda Amerika dengan fenomena Obama yang membuktikan bahwa warga kulit hitam pun mampu jadi presiden dengan mempermalukan veteran/pahlawan perang Vietnam.
Sekarang hanya tinggal menunggu waktu akan efek domino dari demam Obama. Laksana krisis global yang dampaknya pelan tapi pasti melanda seluruh dunia. Kita tentunya sudah mahfum jika kelak bermunculan bupati,gubernur atau bahkan presiden dari keturunan Cina. Haiiyaa…
amerika, indonesia, obama, presiden
In amerika on 20 Januari 2009 at 10:49 pm
Pelantikan Obama menyedot perhatian dunia. Hampir seluruh stasiun TV menyiarkan secara live acara tersebut. Dan mungkin inilah acara yang paling dinanti-nantikan oleh seluruh umat manusia di muka bumi ini.
Animo masyarakat yang begitu besar menunjukkan adanya expectation yang tinggi terhadap sosok presiden kulit hitam pertama Amerika ini. Ditambah lagi dengan kondisi krisis global yang membuat banyak orang kehilangan harapan untuk penghidupan lebih baik serta masa depan yang suram.
Sosok Obama yang menghabiskan masa kecilnya di Indonesia juga menambah daya tarik publik untuk mengetahui kehidupan pribadinya lebih dalam. Bahkan tak sedikit yang beranggapan bahwa dalam diri Obama telah melambangkan keterwakilan seluruh suku, ras, agama serta bangsa seluruh dunia. Tidak ada satupun sosok presiden negara adidaya tersebut yang memiliki riwayat biologis yang begitu kompleks.
Adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi kita karena sedikit banyaknya Obama tentu mengenal seluk beluk tentang Indonesia. Hal yang sangat positif bagi kerjasama strategis bagi kedua negara. Keterikatan secara psikologis bisa menjadi jalan guna memuluskan jalan diplomasi yang menguntungkan kedua belah pihak. Hanya saja ruang terbuka ini harus tetap kita jaga dari adanya riak-riak bernada pesimis akan kelangsungan serta masa depan Amerika dibawah kepemimpinan Obama serta kecenderungan bertindak agresif dari segala sesuatu yang berbau western.
Terlepas dari semua itu, semua tentu ada hikmahnya. Terpilihnya Obama sebagai presiden Amerika pun membawa angin segar bagi hubungan Jakarta-Washington. Dan pertanyaannya adalah bagaimana sikap serta reaksi Jakarta ?
wait and see…and
welcome to the new president.
HAM, Kasasi, MA, Munir
In Tak Berkategori on 17 Januari 2009 at 8:23 am
Terpilihnya Harifin Tumpa sebagai Ketua MA yang baru bisa membawa harapan baru pula bagi penegakan hukum di tanah air.
Harapan ini tidak terlalu berlebihan. Sosok yang sudah lama malang melintang di dunia hukum ini bukanlah sosok yang baru di tubuh MA sendiri.
Salah satu agenda penting yang telah menanti beliau adalah kasasi kasus pembunuhan aktivis HAM Munir. Kasus yang telah menjadi sorotan internasional.
Kita tentu berharap MA dengan wajah yang baru dapat membawa lembaga ini kembali berwibawa dan menjawab semua tuntutan serta rasa keadilan masyarakat yang sudah lama hilang di negeri ini.
demokrasi, indonesia, parpol, presiden
In demokrasi on 12 Januari 2009 at 1:08 am
Tur politik Megawati ke sejumlah daerah khususnya di kawasan timur Indonesia menandakan genderang pesta demokrasi lima tahunan telah ditabuh.
Dari sekian banyak survei telah dilakukan nama ketua umum PDI Perjuangan ini masih tetap bertengger di papan atas bursa capres. Posisi angkanya hanya beda tipis dengan pesaing utamanya Susilo Bambang Yudhoyono yang tetap memimpin
Mega pantas memiliki rasa percaya diri. Sebagai mantan presiden tentu mempunyai kalkulasi politik tersendiri dalam mengukur elektibilitas pemilih. Alasan ini pula yang memberi keyakinan serta optimisme dari kader-kader partai berlambang banteng gemuk menghadapi pilpres akan datang.
Inilah klimaks dari hasil kongres Bali dimana Mega kembali dipercaya memimpin partai. Keputusan kongres yang pada masa itu dianggap kurang populer ternyata membawa berkah dikemudian hari.
Tapi ini tidak berarti semuanya berjalan sesuai strategi partai. Hal yang paling krusial adalah mandeknya regenerasi di tubuh partai. Dengan majunya Mega sebagai capres tunggal dari partainya secara otomatis menutup peluang bagi munculnya kader muda yang bisa membawa angin segar.
Alhasil kita pun sudah bisa memprediksi peta kekuatan serta konstelasi politik pilpres nanti tak lain adalah arena pertarungan tokoh-tokoh lama alias jadul.
Dari serangkaian tur politik tersebut ada satu yang membuat kita berasumsi tentang pasangan Mega. Tokoh nasional yang selama ini di representasikan sebagai wakil dari Indonesia bagian timur bakal menjadi idola para kandidat.
elit, Golkar, partai, sulsel
In demokrasi on 10 Januari 2009 at 5:28 am
Pengunduran diri Amin Syam dari kursi ketua Golkar Sulsel adalah blunder bagi partai berlambang pohon beringin ini.
Dalam waktu yang sangat kasip jelang pemilu legislatif maupun pilpres sangat riskan memang. Namun barangkali inilah ujian terakhir bagi ketua umum sebelum memutuskan sikap tentang ikut “nyalon” 01 atau 02 saja.
Tak bisa dipungkiri faktor penyebab timbulnya faksi di tubuh Golkar Sulsel adalah pilgub yang menyebabkan kekalahan kontroversial Golkar di daerah yang selama ini terkenal sebagai lumbung suara partai dengan warna kebesarannya kuning.
Terpilihnya Syahrul Yasin Limpo walaupun dengan perolehan suara tipis yang juga nota bene adalah kader Golkar telah menjungkir balikkan fakta. Hal ini juga berimbas pada semangat euforia kader untuk merekonstruksi partai dengan mengganti pucuk pimpinan yang telah dianggap gagal.
Bagaimanapun juga kedewasaan para elit lokal Partai Golkar dalam menyikapi persoalan ini adalah solusi paling smart guna menghindari partai dari perpecahan dan berimplikasi sangat luas. Dan yang lebih urgent adalah menyelamatkan muka sang ketua umum.
Pertarungan di internal partai yang pernah berkuasa pada zaman orde baru ini bisa dikatakan tahap pemanasan mesin partai jelang pilpres nanti. Hal ini juga menjadi warning bagi partai-partai lain sekaligus sinyal kuat akan kesiapan Partai Golkar untuk kembali berkuasa.
aktivis, kontras, muchdi, Munir
In Hak Asasi Manusia on 3 Januari 2009 at 7:14 am
Keputusan bebas Muchdi menyisakan PR bagi pemerintahan SBY.
Tanda tanya besar bagi masyarakat adalah siapa aktor intelektual pembunuhan aktivis kontras Munir? Dan ini belum terjawab tuntas.
Sebagai negara demokrasi bagaimana pun juga kita tetap menghormati keputusan tersebut. Hanya saja tentu kita tidak boleh mengabaikan tuntutan keadilan serta kebenaran dari masyarakat.
Secara logika untuk mencari tahu siapa sebenarnya pelaku utama sekaligus mengurai benang kusut dari kasus tersebut pihak penyidik hendaknya lebih proaktif mengumpulkan informasi berkaitan dengan bukti baru yang bisa jadi pintu masuk pengungkapan kasus yang sangat ditunggu-tunggu masyarakat luas ini.
Masyarakat pun mempunyai kesempatan serta akses yang seluas-luasnya guna mengungkap otak pembunuhnya. Informasi dari masyarakat yang mungkin selama ini belum terekspos kiranya bisa menjadi jalan baru bagi pihak penyidik untuk mengungkap kasus ini.
Kita semua berharap kasus ini bisa tuntas seluruhnya sehingga semua pihak dapat menerima serta menjadi pelajaran sangat berharga bagi bangsa ini dalam menata hukum dan membangun demokrasi.
Kecurigaan berbagai pihak atas keputusan tersebut memang pantas. Adalah tugas dari komisi yudisial untuk membuktikannya.